Pagi ini aku terbangun.
Ku lihat jam dinding menunjukkan bahwasanya waktu Subuh telah masuk.
Aku terlambat untuk shalat ke Masjid.
Segera ku bangkit walau mata masih berat.
Ku hampiri pintu kamar kosku,
Dan ku ayunkan daun pintunya membuka.
Dinginnya Jatinangor di Subuh hari langsung menghampiriku.
Menembus kulit yang padahal buatan gen Koto Tuo Panyalaian+Suliki.
Aku menuju keran air.
Aku putar dan mengalirlah air.
Aku berwudhu.
Aku usir semua iblis & jin yang bergelantungan di mataku.
Dingin. Segar. Namun pedih.
Mataku terang. Namun tetap sendu. Seakan merindu.
Ya. Memang. Ada banyak hal yang kurindukan.
Ah, tapi biarlah. Sudah jalannya aku ke sini.
Ku langsungkan shalat Subuh.
Tanpa kusadari air mataku luluh dalam shalatku.
Dalam keheningan subuh hari.
Isak tangisku menghiasi kamar ini.
Ya. Aku menangis.
Aku begitu merindukan kampung halamanku.
Aku merindukan kota kelahiranku.
Aku merindukan gelak tawa teman-teman seperjuanganku di Rohis, Assalam, dan ShoT 165 Sumbar.
Aku merindukan keluargaku.
Terutama. Aku sangat rindu akan mereka.
Ya. Mereka. Mereka berdua.
Manusia pertama yang memberikan kasih sayang padaku.
Semenjak sebelum aku tau apa itu dunia.
Bahkan semenjak aku belum muncul di dunia ini.
Ya. Papa dan Mama ku. Aku rindu pada mereka.
Begitu banyak hal yang terjadi dan ku lalui di sini.
Namun tak pernah ku temukan kasih sayang yang seperti mereka.
Di sini penuh kebohongan. Tipu daya.
Palsu. Semua paslu. Hanya di mulut namun tak di hati.
Ku lihat jam dinding menunjukkan bahwasanya waktu Subuh telah masuk.
Aku terlambat untuk shalat ke Masjid.
Segera ku bangkit walau mata masih berat.
Ku hampiri pintu kamar kosku,
Dan ku ayunkan daun pintunya membuka.
Dinginnya Jatinangor di Subuh hari langsung menghampiriku.
Menembus kulit yang padahal buatan gen Koto Tuo Panyalaian+Suliki.
Aku menuju keran air.
Aku putar dan mengalirlah air.
Aku berwudhu.
Aku usir semua iblis & jin yang bergelantungan di mataku.
Dingin. Segar. Namun pedih.
Mataku terang. Namun tetap sendu. Seakan merindu.
Ya. Memang. Ada banyak hal yang kurindukan.
Ah, tapi biarlah. Sudah jalannya aku ke sini.
Ku langsungkan shalat Subuh.
Tanpa kusadari air mataku luluh dalam shalatku.
Dalam keheningan subuh hari.
Isak tangisku menghiasi kamar ini.
Ya. Aku menangis.
Aku begitu merindukan kampung halamanku.
Aku merindukan kota kelahiranku.
Aku merindukan gelak tawa teman-teman seperjuanganku di Rohis, Assalam, dan ShoT 165 Sumbar.
Aku merindukan keluargaku.
Terutama. Aku sangat rindu akan mereka.
Ya. Mereka. Mereka berdua.
Manusia pertama yang memberikan kasih sayang padaku.
Semenjak sebelum aku tau apa itu dunia.
Bahkan semenjak aku belum muncul di dunia ini.
Ya. Papa dan Mama ku. Aku rindu pada mereka.
Begitu banyak hal yang terjadi dan ku lalui di sini.
Namun tak pernah ku temukan kasih sayang yang seperti mereka.
Di sini penuh kebohongan. Tipu daya.
Palsu. Semua paslu. Hanya di mulut namun tak di hati.
Dingin. Ya. Di sini terasa sangat dingin.
Bukan. Bukan suhu lingkungannya kawan.
Namun manusianya.
Bisa dikatakan tak ada kehangatan di sini.
Dalam sujudku. Dengan tangisku.
Ku adukan semuanya pada-Nya.
Tak baik juga rasanya jika ku paparkan di sini apa perbincanganku dengan-Nya.
Namun yang jelas. Aku adukan bahwa aku ingin pulang.
Ya. Aku ingin pulang. Di sini bukan tempatku. Aku tak tahan di sini.
Bukan. Bukan suhu lingkungannya kawan.
Namun manusianya.
Bisa dikatakan tak ada kehangatan di sini.
Dalam sujudku. Dengan tangisku.
Ku adukan semuanya pada-Nya.
Tak baik juga rasanya jika ku paparkan di sini apa perbincanganku dengan-Nya.
Namun yang jelas. Aku adukan bahwa aku ingin pulang.
Ya. Aku ingin pulang. Di sini bukan tempatku. Aku tak tahan di sini.
Ma... Pa... Aku ingin pulang...........
P.S.:
Mungkin, kawan, engkau akan berkata bahwa aku manja.
"Ah baru juga kemaren ini kamu pulang ke Padang, Ris."
"Ah manja amat baru berapa bulan dan baru ke Pulau Jawa juga."
Satu jawabku untukmu. "Terserah apa katamu."
Iya kawan. Terserah apa katamu.
Hidupku dan hidupmu berbeda.
Masalahku dan masalahmu berbeda.
Rasa ku dan rasamu berbeda.
Jadi kawan, tak baik juga rasanya jika kau hakimi aku dengan komentar seperti itu.
Maaf.
P.S.:
Mungkin, kawan, engkau akan berkata bahwa aku manja.
"Ah baru juga kemaren ini kamu pulang ke Padang, Ris."
"Ah manja amat baru berapa bulan dan baru ke Pulau Jawa juga."
Satu jawabku untukmu. "Terserah apa katamu."
Iya kawan. Terserah apa katamu.
Hidupku dan hidupmu berbeda.
Masalahku dan masalahmu berbeda.
Rasa ku dan rasamu berbeda.
Jadi kawan, tak baik juga rasanya jika kau hakimi aku dengan komentar seperti itu.
Maaf.
~Jatinangor, 20 Maret 2013, 21.05 WIB


