Selasa, 28 Oktober 2014

Soempah Pemoeda

Hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Saya selaku pemuda Indonesia, selalu bangga menjadi orang Indonesia. In shaa Allah :)

Ada sebuah orasi seorang comic Stand Up Comedy yang sangat saya suka. Ya. Dialah Abdur. Penampilannya di Grand Final Stand Up Comedy Season 4 dengan judul "Indonesia Ibarat Kapal Tua". Awalnya sih saya mau unggah video-nya tapi apa daya. Modem tak mampu :')

Ini link nya :)
https://www.youtube.com/watch?v=v2YW_qXv0bM



Hujan

Hujan...

Lama ku menanti

Gersang diri kau hapus dengan sejukmu

Tanah kembali kau pacu untuk hijau

Pantas aku merindukanmu


Hujan...

Entah kenapa hadirmu membuat diri ini senang

Seakan yang kau siramkan ke bumi bukanlah air

Tapi kebahagiaan

Pantas band Utopia membuat lagu berjudul “Hujan”


Hujan...

Hadirmu dinanti orang

Meski kau datang membasahi kembali cucian

Namun kau mampu sembunyikan kesedihan manusia

Kau menetes lalu mengalir di pipi

Pantas Rowan Atkinson membuat quote tentangmu


Hujan...

Kadang aku bertanya-tanya dengan bodohnya

Sudah berapa kali engkau mengeroyokku?

Sudah berapa orang yang kalian "serang" bersama-sama?

Mengapa engkau tidak datang sendiri setetes demi setetes? 

Pantas orang berlarian saat kau datang


Hujan...

Kini diri ini sadar

Bahwa engkau datang beramai-ramai membawa pelajaran untuk kami, manusia

Bahwa jika sendiri kami tak berarti

Namun jika bersama maka kami tak dapat diacuhkan dunia 

Ini namanya amal jama'i. Amal bersama-sama

Pantas Nabi Muhammad SAW senang menyentuh rintik pertamamu


Hujan...

Malam ini engkau datang

Namun malam ini juga engkau kan pergi

Sampai kapankah ku harus menantimu kembali? 





~Faris Elzo Syauqi Arafah. Di bawah guyuran hujan puisi ini kucipta ~
~ Jatinangor, 28-10-2014. 20.30 WIB..~



Sabtu, 25 Oktober 2014

"Maaf"


"Maaf". Mungkin ini adalah satu kata yang paling sering diucapkan seorang manusia selama hidupnya. Ya. Manusia memang tidak pernah bisa bebas 100% dari yang namanya kesalahan. Apalagi kesalahan antar sesama manusia. Setelah melakukan kesalahan biasanya hubungan akan rusak, namun kata "maaf" selalu bisa memperbaikinya kembali. Entah. Kadang saya bingung dengan kata ini. Dia begitu kuat dan berpengaruh. 

Ada beberapa tipe manusia yang enggan juga menggunakan kata ini. Ada juga yang tipenya susah untuk menerima kata ini. Maksudnya yaitu saat ada yang meminta maaf kepadanya, dia tidak mempedulikannya. Dia tetap menyimpan rasa amarah itu di dalam hatinya. Ia enggan membuka pintu hatinya agar kata "maaf" yang dilontarkan si peminta maaf memasuki dan menambah keimanan di hatinya. Biasanya dalam hal ini, gengsi berkuasa atas diri. Sehingga birahi harga diri bergejolak tinggi. Kata "maaf" telah mengetuk pintu hati, namun dia lebih memilih menyiksa diri dengan dendam tak teratasi. Sungguh iba diriku pada pribadi seperti ini. 

Setelah si hati tak dibuka, biasanya si otak kan bekerja ekstra. Ia bekerja merangkai kata untuk balik mencerca si peminta. Setelah kata cercaan terucap maka hubunganpun tak bisa dirangkai lagi. Maka si hati pun nelangsa namun si otak berbangga. Si dada bergemuruh iba namun si tangan mengepal bangga. Entah apa yang dipikirkan si otak yang bangga membuat si hati menangis iba. Ya. Hati pasti terluka...

Saya secara pribadi mengakui bahwa saya juga sering menggunakan kata ini. Saya juga mengakui bahwa saya sering berbuat salah pada orang lain. Bahkan mungkin saya harus selalu minta maaf setiap ada yang melihat saya karena bisa saja saya ini polusi. Da aku mah apa atuh... *badumcess! hahaha...

Ya. Saya manusia biasa. Mungkin saya adalah satu diantara beberapa manusia hina yang masih bisa berjalan dengan sombong di muka bumi ini padahal begitu banyak dosa yang telah saya perbuat. astaghfirullah...

Dosa. Ya. Dalam perenungan yang lama dan semakin lama, saya semakin menyadari dan ingat kembali akan dosa-dosa yang telah saya perbuat. Ada dosa yang KATANYA ringan sampai dosa yang sangat berat sampai-sampai hanya orang-orang terpilih (dalam konteks negatif) yang mungkin pernah melakukannya. Astaghfirullah...

Ya, Dalam perenungan dalam selama ini. Saya semakin menyadari kesalahan yang telah saya lakukan. 
Saya semakin merasa hina...
Saya semakin merasa berdosa...
Saya semakin merasa kotor...
Saya merasa semakin......ah sudahlah...

Sekarang tiada guna saya hanya merenung. Teruntuk kamu yang membaca tulisan ini. Aku meminta maaf. Terlebih kalian semua yang pernah saya sakiti secara langsung dan meninggalkan bekas, Saya minta maaf. Semoga langkah kita untuk menggapai surganya dilancarkan dan diberkahi. Aamiin. 

Terkhusus kamu. Iya kamu. Kamu yang memutuskan tali silaturahmi. Semoga kita kembali bersaudara seperti sedia kala. (^_^)

~Faris Elzo Syauqi Arafah, di kosan penuh kenangan dan menanti saat melepas status bujangan~


Kamis, 09 Oktober 2014

Bulan di Negeri Bangsat

Bulan...
Aku tahu engkau menyaksikan
Aku tahu engkau memperhatikan
Saat para bedebah itu menggerus Ibu Pertiwi ini
Dengan nafsu yang tak lebih tinggi dari nafsu babi

Bulan...
Sampai kapan negeri ini kan diisi para bedebah?
Pesawat tempur lalu lalang menghantarkan bom dari atap ke atap di negeri nun jauh di sana
Namun si bangsat di puncak sana hanya diam tak berbuat
Para penduduk pun hanya bisa berteriak “Laknat!”

Bulan...
Ku lihat si Bapak bekerja
Dia banting tulang menghidupi keluarganya
Tapi tak ku lihat ia menghidupi sekelilingnya
Ia terlalu sibuk melamunkan kejayaan ranjang bersama istrinya

Bulan...
Ku lihat si Ibu mengurus rumah
Ia begitu telaten merapikan
Tapi tak ku lihat ia merapikan carut marut di sekitarnya
Ia terlalu sibuk dengan cekikikannya bersama tetangga mengenai anting si penghuni baru komplek

Bulan...
Ku lihat si Jas sibuk di kantornya
Ia duduk angkuh di balik meja hitam di atas gedung bertingkat
Tapi tak ku lihat ia memperhatikan rakyat yang ada di bawah mejanya
Ia tampaknya terlalu sibuk mengenang celana dalam wanita penghibur semalam
Ya. Yang ia sewa menggunakan uang rakyat

Bulan...
Ku lihat si Pemuda belajar
Ku lihat kerutan dan kantung matanya yang kian bertambah
Tapi tak ku lihat ia berkompromi dengan diri untuk mengurusi aspirasi negeri
Ia terlalu sibuk mengejar nilai yang diberi dosen pengejar gaji
Ah... Engkau sungguh pemuda basi!!!

Bulan...
Engkau ada di sana. Tinggi. Tak terjangkau oleh sogokan para hina di sini.
Tolong sampaikan pada-Nya Yang Mahatinggi
“Aku rindu tuk tertawa lagi.”

~Jatinangor, 09-10-2014. 22.47 WIB~

~Faris Elzo Syauqi Arafah, menyapa Bulan di teras kosan. Tanpa gorengan dan kopi~

Ku Titip Salam Tuk Sang Bidadari, Bulan

Bulan...
Dia tersenyum
Dia manis
Dia anggun

Bulan...
Dia indah
Dia menawan
Dia menenangkan

Bulan...
Aku di sini berdiri sendiri
Menikmati elok parasnya
Menggapai hendak merangkulnya

Bulan...
Kapankah kita kan bersatu?
Dia ada dikala ku sendu
Dia ada dikala ku merindu

Bulan...
Bisikan ini hendak ku sampaikan padanya
Untaian kata yang telah ku persiapkan
Namun tetap masih ku genggam erat

Bulan...
Ku simpan hasrat ini
Tetaplah menemani aku dikala ku masih sendiri
Berdiri tanpa teman diri
Di negeri jauh ini

Bulan...
Ku titipkan salam untuknya
Ya. Untuk dia.
Dia yang ku nanti
Dia, sang bidadari



~Jatinangor, 09-10-2014, 22.33WIB.~
~Faris Elzo Syauqi Arafah, menatap bulan di teras kosan. Sendiri. ~