Bulan...
Aku tahu engkau menyaksikan
Aku tahu engkau memperhatikan
Saat para bedebah itu menggerus Ibu Pertiwi ini
Dengan nafsu yang tak lebih tinggi dari nafsu babi
Bulan...
Sampai kapan negeri ini kan diisi para bedebah?
Pesawat tempur lalu lalang menghantarkan bom dari atap
ke atap di negeri nun jauh di sana
Namun si bangsat di puncak sana hanya diam tak
berbuat
Para penduduk pun hanya bisa berteriak “Laknat!”
Bulan...
Ku lihat si Bapak bekerja
Dia banting tulang menghidupi keluarganya
Tapi tak ku lihat ia menghidupi sekelilingnya
Ia terlalu sibuk melamunkan kejayaan ranjang bersama
istrinya
Bulan...
Ku lihat si Ibu mengurus rumah
Ia begitu telaten merapikan
Tapi tak ku lihat ia merapikan carut marut di
sekitarnya
Ia terlalu sibuk dengan cekikikannya bersama tetangga
mengenai anting si penghuni baru komplek
Bulan...
Ku lihat si Jas sibuk di kantornya
Ia duduk angkuh di balik meja hitam di atas gedung
bertingkat
Tapi tak ku lihat ia memperhatikan rakyat yang ada
di bawah mejanya
Ia tampaknya terlalu sibuk mengenang celana dalam
wanita penghibur semalam
Ya. Yang ia sewa menggunakan uang rakyat
Bulan...
Ku lihat si Pemuda belajar
Ku lihat kerutan dan kantung matanya yang kian
bertambah
Tapi tak ku lihat ia berkompromi dengan diri untuk
mengurusi aspirasi negeri
Ia terlalu sibuk mengejar nilai yang diberi dosen
pengejar gaji
Ah... Engkau sungguh pemuda basi!!!
Bulan...
Engkau ada di sana. Tinggi. Tak terjangkau oleh
sogokan para hina di sini.
Tolong sampaikan pada-Nya Yang Mahatinggi
“Aku rindu tuk tertawa lagi.”
~Jatinangor, 09-10-2014.
22.47 WIB~
~Faris Elzo
Syauqi Arafah, menyapa Bulan di teras kosan. Tanpa gorengan dan kopi~