Seringkali kita merasa yang paling tahu akan sesuatu hanya karena kita berada di jalan yang mempelajari hal itu atau karena pernah punya pengalaman dalam hal itu. Hanya saja, seringkali juga kita termakan akan kesombongan itu. Menjadi seorang mahasiswa jurusan Biologi tidak menjamin kita yang paling tahu tentang dunia Biologi itu sendiri. Begitu juga dengan menjadi mahasiswa Psikologi bukan berarti kita menjadi yang paling mengerti mengenai psikologi. Menjadi alumni SMA biasa bukan berarti kita yang paling tahu akan kehidupan SMA. Begitupula dengan menjadi alumni SMK ataupun Pesantren. Bukan berarti kita yang paling tahu akan sesuatu yang ada di depan, belakang, atau samping kita. Karena kan selalu ada orang lain yang juga melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar, dan merasakan apa yang kita rasakan. Tambahan, kan selalu ada orang lain yang melihat dari berbagai sudut pandang sehingga dia bisa melihat apa yang tak kita lihat. Di sini yang dituntut hanya kerendahan hati dalam menyadari bahwa kita tak sendiri.
Selasa, 25 November 2014
Selasa, 28 Oktober 2014
Soempah Pemoeda
Hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Saya selaku pemuda Indonesia, selalu bangga menjadi orang Indonesia. In shaa Allah :)
Ada sebuah orasi seorang comic Stand Up Comedy yang sangat saya suka. Ya. Dialah Abdur. Penampilannya di Grand Final Stand Up Comedy Season 4 dengan judul "Indonesia Ibarat Kapal Tua". Awalnya sih saya mau unggah video-nya tapi apa daya. Modem tak mampu :')
Ini link nya :)
https://www.youtube.com/watch?v=v2YW_qXv0bM
Ada sebuah orasi seorang comic Stand Up Comedy yang sangat saya suka. Ya. Dialah Abdur. Penampilannya di Grand Final Stand Up Comedy Season 4 dengan judul "Indonesia Ibarat Kapal Tua". Awalnya sih saya mau unggah video-nya tapi apa daya. Modem tak mampu :')
Ini link nya :)
https://www.youtube.com/watch?v=v2YW_qXv0bM
Hujan
Hujan...
Lama ku menanti
Gersang diri kau hapus dengan sejukmu
Tanah kembali kau pacu untuk hijau
Pantas aku merindukanmu
Hujan...
Entah kenapa hadirmu membuat diri ini senang
Seakan yang kau siramkan ke bumi bukanlah air
Tapi kebahagiaan
Pantas band Utopia membuat lagu berjudul “Hujan”
Hujan...
Hadirmu dinanti orang
Meski kau datang membasahi kembali cucian
Namun kau mampu sembunyikan kesedihan manusia
Kau menetes lalu mengalir di pipi
Pantas Rowan Atkinson membuat quote tentangmu
Hujan...
Kadang aku bertanya-tanya dengan bodohnya
Sudah berapa kali engkau mengeroyokku?
Sudah berapa orang yang kalian "serang" bersama-sama?
Mengapa engkau tidak datang sendiri setetes demi setetes?
Pantas orang berlarian saat kau datang
Hujan...
Kini diri ini sadar
Bahwa engkau datang beramai-ramai membawa pelajaran untuk kami, manusia
Bahwa jika sendiri kami tak berarti
Namun jika bersama maka kami tak dapat diacuhkan dunia
Ini namanya amal jama'i. Amal bersama-sama
Pantas Nabi Muhammad SAW senang menyentuh rintik pertamamu
Hujan...
Malam ini engkau datang
Namun malam ini juga engkau kan pergi
Sampai kapankah ku harus menantimu kembali?
~Faris Elzo Syauqi Arafah. Di bawah guyuran hujan puisi ini kucipta ~
~ Jatinangor, 28-10-2014. 20.30 WIB..~
Sabtu, 25 Oktober 2014
"Maaf"
"Maaf". Mungkin ini adalah satu kata yang paling sering diucapkan seorang manusia selama hidupnya. Ya. Manusia memang tidak pernah bisa bebas 100% dari yang namanya kesalahan. Apalagi kesalahan antar sesama manusia. Setelah melakukan kesalahan biasanya hubungan akan rusak, namun kata "maaf" selalu bisa memperbaikinya kembali. Entah. Kadang saya bingung dengan kata ini. Dia begitu kuat dan berpengaruh.
Ada beberapa tipe manusia yang enggan juga menggunakan kata ini. Ada juga yang tipenya susah untuk menerima kata ini. Maksudnya yaitu saat ada yang meminta maaf kepadanya, dia tidak mempedulikannya. Dia tetap menyimpan rasa amarah itu di dalam hatinya. Ia enggan membuka pintu hatinya agar kata "maaf" yang dilontarkan si peminta maaf memasuki dan menambah keimanan di hatinya. Biasanya dalam hal ini, gengsi berkuasa atas diri. Sehingga birahi harga diri bergejolak tinggi. Kata "maaf" telah mengetuk pintu hati, namun dia lebih memilih menyiksa diri dengan dendam tak teratasi. Sungguh iba diriku pada pribadi seperti ini.
Setelah si hati tak dibuka, biasanya si otak kan bekerja ekstra. Ia bekerja merangkai kata untuk balik mencerca si peminta. Setelah kata cercaan terucap maka hubunganpun tak bisa dirangkai lagi. Maka si hati pun nelangsa namun si otak berbangga. Si dada bergemuruh iba namun si tangan mengepal bangga. Entah apa yang dipikirkan si otak yang bangga membuat si hati menangis iba. Ya. Hati pasti terluka...
Saya secara pribadi mengakui bahwa saya juga sering menggunakan kata ini. Saya juga mengakui bahwa saya sering berbuat salah pada orang lain. Bahkan mungkin saya harus selalu minta maaf setiap ada yang melihat saya karena bisa saja saya ini polusi. Da aku mah apa atuh... *badumcess! hahaha...
Ya. Saya manusia biasa. Mungkin saya adalah satu diantara beberapa manusia hina yang masih bisa berjalan dengan sombong di muka bumi ini padahal begitu banyak dosa yang telah saya perbuat. astaghfirullah...
Dosa. Ya. Dalam perenungan yang lama dan semakin lama, saya semakin menyadari dan ingat kembali akan dosa-dosa yang telah saya perbuat. Ada dosa yang KATANYA ringan sampai dosa yang sangat berat sampai-sampai hanya orang-orang terpilih (dalam konteks negatif) yang mungkin pernah melakukannya. Astaghfirullah...
Ya, Dalam perenungan dalam selama ini. Saya semakin menyadari kesalahan yang telah saya lakukan.
Saya semakin merasa hina...
Saya semakin merasa berdosa...
Saya semakin merasa kotor...
Saya merasa semakin......ah sudahlah...
Sekarang tiada guna saya hanya merenung. Teruntuk kamu yang membaca tulisan ini. Aku meminta maaf. Terlebih kalian semua yang pernah saya sakiti secara langsung dan meninggalkan bekas, Saya minta maaf. Semoga langkah kita untuk menggapai surganya dilancarkan dan diberkahi. Aamiin.
Terkhusus kamu. Iya kamu. Kamu yang memutuskan tali silaturahmi. Semoga kita kembali bersaudara seperti sedia kala. (^_^)
~Faris Elzo Syauqi Arafah, di kosan penuh kenangan dan menanti saat melepas status bujangan~
Kamis, 09 Oktober 2014
Bulan di Negeri Bangsat
Bulan...
Aku tahu engkau menyaksikan
Aku tahu engkau memperhatikan
Saat para bedebah itu menggerus Ibu Pertiwi ini
Dengan nafsu yang tak lebih tinggi dari nafsu babi
Bulan...
Sampai kapan negeri ini kan diisi para bedebah?
Pesawat tempur lalu lalang menghantarkan bom dari atap
ke atap di negeri nun jauh di sana
Namun si bangsat di puncak sana hanya diam tak
berbuat
Para penduduk pun hanya bisa berteriak “Laknat!”
Bulan...
Ku lihat si Bapak bekerja
Dia banting tulang menghidupi keluarganya
Tapi tak ku lihat ia menghidupi sekelilingnya
Ia terlalu sibuk melamunkan kejayaan ranjang bersama
istrinya
Bulan...
Ku lihat si Ibu mengurus rumah
Ia begitu telaten merapikan
Tapi tak ku lihat ia merapikan carut marut di
sekitarnya
Ia terlalu sibuk dengan cekikikannya bersama tetangga
mengenai anting si penghuni baru komplek
Bulan...
Ku lihat si Jas sibuk di kantornya
Ia duduk angkuh di balik meja hitam di atas gedung
bertingkat
Tapi tak ku lihat ia memperhatikan rakyat yang ada
di bawah mejanya
Ia tampaknya terlalu sibuk mengenang celana dalam
wanita penghibur semalam
Ya. Yang ia sewa menggunakan uang rakyat
Bulan...
Ku lihat si Pemuda belajar
Ku lihat kerutan dan kantung matanya yang kian
bertambah
Tapi tak ku lihat ia berkompromi dengan diri untuk
mengurusi aspirasi negeri
Ia terlalu sibuk mengejar nilai yang diberi dosen
pengejar gaji
Ah... Engkau sungguh pemuda basi!!!
Bulan...
Engkau ada di sana. Tinggi. Tak terjangkau oleh
sogokan para hina di sini.
Tolong sampaikan pada-Nya Yang Mahatinggi
“Aku rindu tuk tertawa lagi.”
~Jatinangor, 09-10-2014.
22.47 WIB~
~Faris Elzo
Syauqi Arafah, menyapa Bulan di teras kosan. Tanpa gorengan dan kopi~
Ku Titip Salam Tuk Sang Bidadari, Bulan
Bulan...
Dia tersenyum
Dia manis
Dia anggun
Bulan...
Dia indah
Dia menawan
Dia menenangkan
Bulan...
Aku di sini berdiri sendiri
Menikmati elok parasnya
Menggapai hendak merangkulnya
Bulan...
Kapankah kita kan bersatu?
Dia ada dikala ku sendu
Dia ada dikala ku merindu
Bulan...
Bisikan ini hendak ku sampaikan padanya
Untaian kata yang telah ku persiapkan
Namun tetap masih ku genggam erat
Bulan...
Ku simpan hasrat ini
Tetaplah menemani aku dikala ku masih sendiri
Berdiri tanpa teman diri
Di negeri jauh ini
Bulan...
Ku titipkan salam untuknya
Ya. Untuk dia.
Dia yang ku nanti
Dia, sang bidadari
~Jatinangor, 09-10-2014,
22.33WIB.~
~Faris Elzo Syauqi
Arafah, menatap bulan di teras kosan. Sendiri. ~
Senin, 21 April 2014
Di Bawah Sinar Rembulan Ku Bercinta
Sepi. Hanya ada Kau dan aku
Di jalan sepi ini kita berduaan
Di tengah gelap malam ini kita bermesraan
Seakan di dunia ini hanya ada kita
Hening. Tiada kata yang terucap lantang
Tiada bibir yang bersabda kencang. Lirih..
Hanya penglihatan yang bermain
Saling menatap dalam diam
Kita berbicara tak melalui kata
Kita berbicara melalui relung hati yang terdalam
Semua kemesraan tak kita ucapkan
Hanya kita pahami dalam diam
Dalam indahnya hari tak henti aku memujiMu
Di bawah hangatnya sinar mentari aku selalu memujaMu
Di setiap hela nafas aku memanggilMu
Di setiap derap langkah aku niatkan hanya untukMu
Dalam gemuruh nafsu ku puaskan diriku dengan asmaMu
Dalam goyahnya hati ku selalu bertanya padaMu
Dalam sakitnya sedih ku sandarkan diriku pada kasihMu
Dalam beratnya amanah ku minta pertolonganMu
Basah pipi ini menahan haru rindu
Entah sudah berapa lama ku nantikan perjumpaan kita
Malam ini disaksikan oleh para bintang
Di bawah sinar rembulan ini ku bercinta
Aku dan Kamu, wahai Sang Pencipta
Di jalan sepi ini kita berduaan
Di tengah gelap malam ini kita bermesraan
Seakan di dunia ini hanya ada kita
Hening. Tiada kata yang terucap lantang
Tiada bibir yang bersabda kencang. Lirih..
Hanya penglihatan yang bermain
Saling menatap dalam diam
Kita berbicara tak melalui kata
Kita berbicara melalui relung hati yang terdalam
Semua kemesraan tak kita ucapkan
Hanya kita pahami dalam diam
Dalam indahnya hari tak henti aku memujiMu
Di bawah hangatnya sinar mentari aku selalu memujaMu
Di setiap hela nafas aku memanggilMu
Di setiap derap langkah aku niatkan hanya untukMu
Dalam gemuruh nafsu ku puaskan diriku dengan asmaMu
Dalam goyahnya hati ku selalu bertanya padaMu
Dalam sakitnya sedih ku sandarkan diriku pada kasihMu
Dalam beratnya amanah ku minta pertolonganMu
Basah pipi ini menahan haru rindu
Entah sudah berapa lama ku nantikan perjumpaan kita
Malam ini disaksikan oleh para bintang
Di bawah sinar rembulan ini ku bercinta
Aku dan Kamu, wahai Sang Pencipta
Mengenai Shalat (part 1)
Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, “Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!”
Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, “Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!”
Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, “Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!”
“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku,” tanya lelaki itu.
“Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Qur’an yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beri’tidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya.” (HR. Bukhari)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPPlRpWV
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud: 1/ 533)
Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkar. Wallahu a’lam bis showab.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQKOwQY
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam. (HR. Thabrani & Hakim)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQQ7nEY
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu’ anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera.”
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQYKjgL
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
“Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQaus1n
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Jumat, 11 April 2014
Di Dunia Ini
"Di dunia ini...
Dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja yang sadar.
Dari yang sadar itu, hanya sedikit saja yang ber-Islam.
Dari mereka yang ber-Islam, hanya sedikit yang berdakwah.
Dari mereka yang berdakwah, hanya sedikit yang berjuang.
Dari sedikit yang berjuang, hanya sedikit yang bersabar.
Dari yang bersabar itu...
Hanya sedikit saja dari mereka yang sampai pada akhir perjalanan."
Sabtu, 05 April 2014
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.
Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanitatidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.
Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.
Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang, tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.
Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.
Sungguh teramat merugi...mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..
Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.
Memang... Dakwah ini berat...karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang memiliki hati sekuat baja..
memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.
Memiliki kekuatan yang berlipat.
Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.
Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.
memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.
Memiliki kekuatan yang berlipat.
Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.
Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.
Siapapun takan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini...mengarungi jalan perjuangan...kecuali dengan KESABARAN!!!
Karenanya... Tetaplah disini...dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh...sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...
Karenanya... Tetaplah disini...dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh...sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...
Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya. Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri...karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam di samudra kehidupan...
Jika bersama dakwah saja...kau serapuh itu...bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...???
Jika bersama dakwah saja...kau serapuh itu...bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...???
Jangan Terburu
“Kalau menghafal 1 hari 1 ayat, lalu kapan bisa jadi hafiz 30 juz?!” tanya FULAN, seorang pria kepada saya. Sebisanya saya membalas. “Bila 1 hari engkau hafalkan 1 ayat, maka dalam 1 tahun engkau akan hafalkan 365 ayat, bukan?” Si fulan menganggukkan kepala.
“Jika kau teruskan kebiasaan menghafal 1 ayat sehari, maka in syaa Allah dalam 10 tahun engkau akan hafal 3650 ayat. Betul gak?!” tanyaku padanya mendesak. Si fulan pun kembali mengangguk.
“Lalu kalau dua puluh tahun, berapa ayat yang bisa didapat…?!” kembali aku memburunya. Ia sedikit berpikir. Sejenak kemudian ia menjawab, “7300 ayat!”
Aku tersenyum kepadanya lalu berkata, “Ketahuilah saudaraku, semua ayat Al Quran hanya berjumlah 6236 ayat. Tidak sampai 7300. Maka bila engkau menghafal 1 ayat sehari, in sya Allah engkau akan menuntaskan hafalan Al Quran hanya dalam tempo kurang dari 18 tahun!”
Si Fulan pun kembali sengit dan menukas, “Hah….,18 tahun? LAMA SEKALI….! Banyak pesantren, mahad tahfiz bahkan rumah tahfiz di Indonesia mampu mencetak santri-santri hafiz 30 juz dalam tempo 1-3 tahun saja!”
Aku tidak mundur menerima serangan sinis-nya. Sambil menarik nafas dalam demi menenangkan jiwa aku jawab, “Menurutmu…, mana lebih cerdas orang Indonesia atau Rasulullah Saw dalam menghafal Al Quran?”
Si Fulan tidak jawab pertanyaan ini, dan aku bisa menduga mengapa ia sedemikian.
“Hehehehe…, kamu pasti gak tega untuk bilang bahwa orang Indonesia lebih pintar dari Rasulullah Saw dalam masalah ini. Namun pernahkah kau renungi berapa lama Rasulullah Saw dan para sahabatnya menghafal Al Quran?! Ketahuilah…, mereka menghafalnya lebih dari 22 TAHUN. Lalu apakah mereka kurang cerdas?! Masalahnya di sini bukan perkara cerdas atau tidak dalam menghafal Al Quran. Namun Allah Swt menurunkannya secara perlahan-lahan agar bisa diserap oleh manusia lalu diamalkan dalam hidup keseharian mereka. Bagi ku Al Quran kurang tepat bila hanya dihafal namun tanpa pelaksanaan. Namun Al Quran akan lebih ajeg termanifestasi dalam kehidupan kita semua bila dihafal lalu diamalkan dalam kehidupan.”
Aku pun lalu menunjukkan firman Allah Swt berikut:
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
"Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." QS. 17:106
Simaklah firman Allah Swt di atas dan perhatikan bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur agar Rasulullah Saw menyampaikannya secara perlahan-lahan.
Bila Allah Swt menyuruh Rasulullah Saw untuk menikmati Al Quran dengan perlahan-lahan hingga 20 tahun lebih, pastilah di sana ada sebuah hikmah yang amat baik.
Maka mulailah menghafal sambil menikmati Al Quran. Usah terburu-buru ingin cepat hafiz 30 juz. Mulailah dari 1 ayat per hari. Pahami, jiwai, nikmati, dan amalkan ajarannya. In sya Allah, bila engkau telah sanggup menguasai 1 ayat per hari, maka pasti Allah Swt beri kemudahan bagimu untuk mewujudkan cita-cita menghafal Al Quran 30 juz beserta maknanya.
Semoga bermanfaat
Oleh:
@bobbyherwibowo
Rabu, 02 April 2014
Jika Cinta
Jika cinta adalah api...
Maka berhati-hatilah dengan hangatnya yang membakar
Jika cinta adalah air...
Maka berhati-hatilah dengan sejuknya yang menghanyutkan
Jika cinta adalah angin...
Maka berhati-hatilah dengan semilirnya yang melenakan
Jika cinta adalah kaca...
Maka berhati-hatilah agar tak menghancurkannya
Jika cinta adalah cermin...
Maka bersiaplah menghadapi pantulannya
Jika cinta adalah waktu...
Maka jangan sampai disia-siakan
Jika cintaku adalah dirimu...
Maka bersiaplah tuk ku jemput
Langganan:
Postingan (Atom)
.bmp)








