Kita selalu bertemu di malam hari
Mengusik malam sepi
Canda tawa nan riang menghiasi
Kau bantu aku lupakan semua beban
hati
Meski semua kan pergi begitu ku buka mata ini
Indah menawan pesona bidadari ini
Tidak. Dia ada di sini. Di bumi
ini
Dia nyata. Dia ada. Dia bersuara.
Dia menatap ku penuh cinta.
Paras menawan itu selalu
seolah-olah berkata
“Kapan kau kan siapkan diri?”
Haha... apalah daya seorang pria
Hina. Bahkan setan pun enggan
menggoda
Kotor. Bahkan kecoak pun enggan
mengekor
Tak berambisi. Bahkan tak berani
tuk lanjut bermimpi
Haha... hanya percaya akan yang
namanya cinta
Kalaulah bisa ku katakan ini,
cinta
Takkan ku tunda tuk menjemputmu
Kalalaulah bisa ku sebut ini,
cinta
Takkan lama kita berdua namun
berbatas ini
Hai engkau pelangi di malam hari
Entah restu orangtua takkan kita
dapati.
Entah budaya kita yang berbeda
kan jadi penghalangnya.
Entah status sosial kita yang kan
mencegah kita.
Entah dunia yang berbeda yang kan
menutup jalan.
Lalu apa yang kan bisa kulakukan?
Diriku bukanlah siapa-siapa.
Miskin? Iya. Bahkan tak punya
uang tuk berbuka di kala puasa.
Penakut? Benar. Bahkan tak berani
tuk menyapa.
Bodoh? Sudah tentu. Bahkan tak
bisa menghafal alinea ke-4 pembukaan UUD 1945.
Ceroboh? Selalu terjadi. Bahkan
sering lupa tak bawa handuk ke kamar mandi.
Lalu apa yang kau miliki wahai
pemuda?
Cinta. Hanya cinta.
Kalaulah memang bisa ku
mengejawantahkan cinta.
Tentu hanya pada dia kan ku
sampaikan
Hanya kini masih tak ku tahu
siapa yang ku tuju
Hai engkau bidadariku! Siapakah
namamu?
~Faris Elzo Syauqi Arafah,
20 tahun.
@Arboretum Unpad
Jatinangor, 21 – 06 – 2015.
21.03 WIB
