Rabu, 05 Agustus 2015

Gondes - Tombo Sepi

syair : Gusfoel (Grup nasyid Gondes)

Obat sepi cowo yang masih sendiri
yang pertama datangi guru mengaji
yang kedua siapkanlah data diri
jangan lupa disertai photo asli

yang ketiga minta dicarikan istri
yang keempat taarufnya ditemani
yang kelima maharnya cari sendiri
yang keenam melamar tambatan hati

yang ketujuh tentukan tanggal dan hari
kedelapan KUA nya didatangi
kesembilan undangan nya disebari
kesepuluh handai taulan dikabari

kesebelas rapat panitia mulai
kedua belas anggarannya dihitungi
ketiga belas seserahan dikemasi
jangan lupa dengan besan koordinasi

tiba kini hari yang dinanti-nanti
terima amanah menggetarkan hati
teman-teman tidak lelah menggodai
walau di antaranya ada yang iri

hanya karna nikahnya didahului
salah siapa nunda-nunda jadi hobby
jangan lupa cari kontrakan sendiri
agar ibadahnya lebih variasi
agar ibadahnya lebih konsentrasi


Minggu, 21 Juni 2015

Menanti Nama

Kita selalu bertemu di malam hari
Mengusik malam sepi
Canda tawa nan riang menghiasi
Kau bantu aku lupakan semua beban hati
Meski semua kan pergi begitu ku buka mata ini

Indah menawan pesona bidadari ini
Tidak. Dia ada di sini. Di bumi ini
Dia nyata. Dia ada. Dia bersuara. Dia menatap ku penuh cinta.
Paras menawan itu selalu seolah-olah berkata
“Kapan kau kan siapkan diri?”

Haha... apalah daya seorang pria
Hina. Bahkan setan pun enggan menggoda
Kotor. Bahkan kecoak pun enggan mengekor
Tak berambisi. Bahkan tak berani tuk lanjut bermimpi
Haha... hanya percaya akan yang namanya cinta

Kalaulah bisa ku katakan ini, cinta
Takkan ku tunda tuk menjemputmu
Kalalaulah bisa ku sebut ini, cinta
Takkan lama kita berdua namun berbatas ini
Hai engkau pelangi di malam hari

Entah restu orangtua takkan kita dapati.
Entah budaya kita yang berbeda kan jadi penghalangnya.
Entah status sosial kita yang kan mencegah kita.
Entah dunia yang berbeda yang kan menutup jalan.
Lalu apa yang kan bisa kulakukan? Diriku bukanlah siapa-siapa.

Miskin? Iya. Bahkan tak punya uang tuk berbuka di kala puasa.
Penakut? Benar. Bahkan tak berani tuk menyapa.
Bodoh? Sudah tentu. Bahkan tak bisa menghafal alinea ke-4 pembukaan UUD 1945.
Ceroboh? Selalu terjadi. Bahkan sering lupa tak bawa handuk ke kamar mandi.
Lalu apa yang kau miliki wahai pemuda?

Cinta. Hanya cinta.
Kalaulah memang bisa ku mengejawantahkan cinta.
Tentu hanya pada dia kan ku sampaikan
Hanya kini masih tak ku tahu siapa yang ku tuju
Hai engkau bidadariku! Siapakah namamu?


~Faris Elzo Syauqi Arafah, 20 tahun.
@Arboretum Unpad Jatinangor, 21 – 06 – 2015.
21.03 WIB