Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2016

Gondes - Generasi Harapan (parodi dari Izzatul Islam - Generasi Harapan)

Album : Ada Apa Dengan Gondes
Munsyid : Gondes
http://liriknasyid.com




Dimana ada ikhwan pemberani
Yang sudah mandiri dan selalu mengaji
Tetapi hidupnya masih terasa sunyi
Indahnya ada pendamping berhati suci

Banyak sekali ikhwan yang mandiri 
Orang tua sudah tidak kasih subsidi
Punya rumah juga kendaraan sendiri
Tetapi sepertinya kehilangan nyali

Jangan lama-lama kuliahnya
Tak baik demo sepanjang masa
Ujian jangan di tunda-tunda 
Jangan abadi jadi mahasiswa

Saat demo semangat semua
Pulang demo bolos kuliahnya
Ujian jangan nyontek temannya 
Bikin kecewa calon mertua

Jangan kecewa yang ditolak ta'arufnya
Pasti selalu ada kesempatan kedua
Bilakah tiba umur kita telah dewasa
Harus punya rencana sempurnakan din yang mulia

Makanya saat kita membikin data
Isinya jangan telalu banyak gaya
Sangatlah mungkin di tolak ta'arufnya 
Karna lawan bingung membacanya

Ikutlah pelatihan membikin data
Belajar dengan benar menyusun data
Sederhana dan jangan berbunga bunga
Ungkapkan fakta apa adanya

Dimana dicari seorang ukhti 
Yang sudah siap untuk dijadikan istri
Adakah calon mertua yang baik hati 
Sudi menerima calon mantu begini

Susahnya mencari ukhti sejati
Sederhana, pandai, dan berbudi pekerti 
Memahami kekurangan calon suami
Untuk membina keluarga yang islami

Mengapa kau patahkan pedangmu
Hingga teganya kau menikah dulu
Yang di sini bujangan semua
Yang di situ malah pada ketawa

Rabu, 05 Agustus 2015

Gondes - Tombo Sepi

syair : Gusfoel (Grup nasyid Gondes)

Obat sepi cowo yang masih sendiri
yang pertama datangi guru mengaji
yang kedua siapkanlah data diri
jangan lupa disertai photo asli

yang ketiga minta dicarikan istri
yang keempat taarufnya ditemani
yang kelima maharnya cari sendiri
yang keenam melamar tambatan hati

yang ketujuh tentukan tanggal dan hari
kedelapan KUA nya didatangi
kesembilan undangan nya disebari
kesepuluh handai taulan dikabari

kesebelas rapat panitia mulai
kedua belas anggarannya dihitungi
ketiga belas seserahan dikemasi
jangan lupa dengan besan koordinasi

tiba kini hari yang dinanti-nanti
terima amanah menggetarkan hati
teman-teman tidak lelah menggodai
walau di antaranya ada yang iri

hanya karna nikahnya didahului
salah siapa nunda-nunda jadi hobby
jangan lupa cari kontrakan sendiri
agar ibadahnya lebih variasi
agar ibadahnya lebih konsentrasi


Selasa, 25 November 2014

Seringkali kita merasa yang paling tahu akan sesuatu hanya karena kita berada di jalan yang mempelajari hal itu atau karena pernah punya pengalaman dalam hal itu. Hanya saja, seringkali juga kita termakan akan kesombongan itu. Menjadi seorang mahasiswa jurusan Biologi tidak menjamin kita yang paling tahu tentang dunia Biologi itu sendiri. Begitu juga dengan menjadi mahasiswa Psikologi bukan berarti kita menjadi yang paling mengerti mengenai psikologi. Menjadi alumni SMA biasa bukan berarti kita yang paling tahu akan kehidupan SMA. Begitupula dengan menjadi alumni SMK ataupun Pesantren. Bukan berarti kita yang paling tahu akan sesuatu yang ada di depan, belakang, atau samping kita. Karena kan selalu ada orang lain yang juga melihat apa yang kita lihat, mendengar apa yang kita dengar, dan merasakan apa yang kita rasakan. Tambahan, kan selalu ada orang lain yang melihat dari berbagai sudut pandang sehingga dia bisa melihat apa yang tak kita lihat. Di sini yang dituntut hanya kerendahan hati dalam menyadari bahwa kita tak sendiri. 

Aku, Kamu, Dia. Kita memiliki ilmu sendiri. Usah tinggi hati, mari saling berbagi.

Selasa, 28 Oktober 2014

Soempah Pemoeda

Hari ini adalah hari Sumpah Pemuda. Saya selaku pemuda Indonesia, selalu bangga menjadi orang Indonesia. In shaa Allah :)

Ada sebuah orasi seorang comic Stand Up Comedy yang sangat saya suka. Ya. Dialah Abdur. Penampilannya di Grand Final Stand Up Comedy Season 4 dengan judul "Indonesia Ibarat Kapal Tua". Awalnya sih saya mau unggah video-nya tapi apa daya. Modem tak mampu :')

Ini link nya :)
https://www.youtube.com/watch?v=v2YW_qXv0bM



Senin, 21 April 2014

Mengenai Shalat (part 1)


Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, “Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!”
Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, “Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!”
Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, “Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!”
“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku,”
tanya lelaki itu.
“Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Qur’an yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beri’tidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya.” (HR. Bukhari)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPPlRpWV 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud: 1/ 533)
Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkarWallahu a’lam bis showab.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQKOwQY 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam. (HR. Thabrani & Hakim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQQ7nEY 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu’ anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera.”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQYKjgL 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


“Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQaus1n 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Jumat, 11 April 2014

Di Dunia Ini


"Di dunia ini... 
Dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja yang sadar. 
Dari yang sadar itu, hanya sedikit saja yang ber-Islam. 
Dari mereka yang ber-Islam, hanya sedikit yang berdakwah. 
Dari mereka yang berdakwah, hanya sedikit yang berjuang. 
Dari sedikit yang berjuang, hanya sedikit yang bersabar.  
Dari yang bersabar itu... 
Hanya sedikit saja dari mereka yang sampai pada akhir perjalanan."

Sabtu, 05 April 2014

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah



Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.
Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanitatidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.
Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.
Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang, tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.
Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.
Sungguh teramat merugi...mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..
Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.
Memang... Dakwah ini berat...karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang memiliki hati sekuat baja..
memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.
Memiliki kekuatan yang berlipat.
Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.
Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.
Siapapun takan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini...mengarungi jalan perjuangan...kecuali dengan KESABARAN!!!
Karenanya... Tetaplah disini...dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh...sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...
Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya. Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri...karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam di samudra kehidupan...
Jika bersama dakwah saja...kau serapuh itu...bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...???



Jangan Terburu

“Kalau menghafal 1 hari 1 ayat, lalu kapan bisa jadi hafiz 30 juz?!” tanya FULAN, seorang pria kepada saya. Sebisanya saya membalas. “Bila 1 hari engkau hafalkan 1 ayat, maka dalam 1 tahun engkau akan hafalkan 365 ayat, bukan?” Si fulan menganggukkan kepala.
“Jika kau teruskan kebiasaan menghafal 1 ayat sehari, maka in syaa Allah dalam 10 tahun engkau akan hafal 3650 ayat. Betul gak?!” tanyaku padanya mendesak. Si fulan pun kembali mengangguk.
“Lalu kalau dua puluh tahun, berapa ayat yang bisa didapat…?!” kembali aku memburunya. Ia sedikit berpikir. Sejenak kemudian ia menjawab, “7300 ayat!”
Aku tersenyum kepadanya lalu berkata, “Ketahuilah saudaraku, semua ayat Al Quran hanya berjumlah 6236 ayat. Tidak sampai 7300. Maka bila engkau menghafal 1 ayat sehari, in sya Allah engkau akan menuntaskan hafalan Al Quran hanya dalam tempo kurang dari 18 tahun!”
Si Fulan pun kembali sengit dan menukas, “Hah….,18 tahun? LAMA SEKALI….! Banyak pesantren, mahad tahfiz bahkan rumah tahfiz di Indonesia mampu mencetak santri-santri hafiz 30 juz dalam tempo 1-3 tahun saja!”
Aku tidak mundur menerima serangan sinis-nya. Sambil menarik nafas dalam demi menenangkan jiwa aku jawab, “Menurutmu…, mana lebih cerdas orang Indonesia atau Rasulullah Saw dalam menghafal Al Quran?”
Si Fulan tidak jawab pertanyaan ini, dan aku bisa menduga mengapa ia sedemikian.
“Hehehehe…, kamu pasti gak tega untuk bilang bahwa orang Indonesia lebih pintar dari Rasulullah Saw dalam masalah ini. Namun pernahkah kau renungi berapa lama Rasulullah Saw dan para sahabatnya menghafal Al Quran?! Ketahuilah…, mereka menghafalnya lebih dari 22 TAHUN. Lalu apakah mereka kurang cerdas?! Masalahnya di sini bukan perkara cerdas atau tidak dalam menghafal Al Quran. Namun Allah Swt menurunkannya secara perlahan-lahan agar bisa diserap oleh manusia lalu diamalkan dalam hidup keseharian mereka. Bagi ku Al Quran kurang tepat bila hanya dihafal namun tanpa pelaksanaan. Namun Al Quran akan lebih ajeg termanifestasi dalam kehidupan kita semua bila dihafal lalu diamalkan dalam kehidupan.”
Aku pun lalu menunjukkan firman Allah Swt berikut: وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
"Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." QS. 17:106 Simaklah firman Allah Swt di atas dan perhatikan bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur agar Rasulullah Saw menyampaikannya secara perlahan-lahan.
Bila Allah Swt menyuruh Rasulullah Saw untuk menikmati Al Quran dengan perlahan-lahan hingga 20 tahun lebih, pastilah di sana ada sebuah hikmah yang amat baik.
Maka mulailah menghafal sambil menikmati Al Quran. Usah terburu-buru ingin cepat hafiz 30 juz. Mulailah dari 1 ayat per hari. Pahami, jiwai, nikmati, dan amalkan ajarannya. In sya Allah, bila engkau telah sanggup menguasai 1 ayat per hari, maka pasti Allah Swt beri kemudahan bagimu untuk mewujudkan cita-cita menghafal Al Quran 30 juz beserta maknanya.
Semoga bermanfaat

Oleh:
@bobbyherwibowo


Minggu, 15 Desember 2013

Nasehat Imam Syafi'i : Merantau


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika didalam hutan

Senin, 02 September 2013

Survey: Interaksi Ikhwan-Akhwat Bukan Mahram

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah. Pada tanggal 5 Agustus 2013 kemarin ane melakukan survey kecil-kecilan mengenai Interaksi Ikhwan- Akhwat Bukan Mahram. Dalam survey ini ane menitikberatkan pada persoalan di jejaring sosial atau yang sering disebut media sosial (medsos). Maka dari itu, pertanyaan yang ane ajukan adalah fenomena interaksi ikhwan-akhwat yang sering ane dapati di dunia maya. Baik itu melalui Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr, Blog, Wordpress, dll. Dan untuk survey ini ane tidak akan memberikan kesimpulan. Ane meminta kepada pembaca yang lain untuk menyimpulkan sendiri dan jika berkenan, silahkan kesimpulannya ditulis juga di kolom "komen" postingan ini.

Dalam survey ini, ane mengajukan pertanyaan kepada 45 orang calon responden. Alhamdulillah ada 7 orang yang bersedia memberikan tanggapannya. (bukan. 7 orang ini bukan pendapat terbaik. melainkan memang hanya 7 orang ini yang bersedia memberikan pendapatnya.). Pendapat yang ane tampilkan di sini, insya Allah, asli tanpa edit selain pengeditan terhadap ejaan. Untuk nama, sesuai dengan permintaan responden, nama disamarkan.

Adapun pertanyaan yang ane ajukan adalah:
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
6. Menurut antum wa antunna, gimana sih ikhwan/ akhwat yang narsis itu? (Narsis dalam arti harfiah semisal mengaku ganteng/ cantik. Bukan narsis= hobi foto.)
7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan)
10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?

Pendapat responden:

Akh Lalalalilili:
1. Gak terlalu mengkhususkan memanggil seseorang pakai "aku-kamu" walaupun ke lawan jenis. Kadang manggil masbro juga.
2. Kalau komen foto sih tergantung fotonya. Kalau itu ada foto kita sih apa salahnya?
3. Kalau gaya unyu-unyu mah, susah kalau ini. Kalau ane berfoto selalu unyu walaupun nggak niat. :3
4. Kalau mau ngobrol lama ya tinggal ajak satu temen lain biar jadi bertiga.
5. Kalau ngobrol di twitter sih ane seperlunya aja. Bisa juga banyak kalau perlunya lagi banyak juga.
6. Kalau masalah narsis, no komen deh. Narsis itu kan terkadang mensyukuri nikmat Tuhan.
7. Kalau narsis ke lawan jenis ya orang ada juga menggunakannya sebagai humor belaka. 
8. Semua orang ganteng dan cantik menurut ane di foto. Jadi susah mau komentar apa. 
9. Ya yang baik dan benar aja, jangan sampai ada kontak fisik kalau bisa. 
10 & 11. No komen karena merasa bukan aktivis dakwah. Sarannya sih harus mulai dari diri sendiri.


Ukht NaLu:
1. Kalau menurut ana, masalah sapaan aku-kamu/gue-elo itu bukan masalah prinsip buat sosok aktivis dakwah. Karena, dengan sapaan normal seperti org2 biasa yg mungkin belum terlalu dekat dan mendalami Islam, malah membuat panggilan itu serasa akrab, dan mengurangi kesan eksklusif bagi pejuang dakwah. Aku-kamu juga bahasa indonesia resmi yg tercatat di KBBI, aktivis dakwah jg org Indonesia, jadi rsnya ga perlu maksa pake ana-antum demi pencitraan, aktivis dakwah tetep harus jd diri sendiri dan mempertahankan budaya.

2. Kalau mengomentarinya secara langsung di tempat umum (socmed), rasanya kurang ahsan. Kadang komentarnya bisa menyinggung yg punya foto, dan kadang bisa memancing org lain untuk mengomentari yg bisa berdampak negatif. 


3.Kalau masalah foto yg bergaya imut,yg kesannya dibuat2,kembali lagi, kepada yg mengomentarinya. Kadang kita sebagai aktivis dakwah butuh pemakluman. Aktivis dakwah jg manusia punya naluri seperti org biasa. Kadang ikhwan yang menganggap sok imut dan terkesan dibuat-buat itu yang terlalu sensitif. Kalau akhwat terlalu dikerasin,bisa berdampak negatif sama akhwatnya jd risih sama islam. Anggap aja akhwatnya khilaf meletakkan foto, atau kepada yg suka berkomentar, coba positif thinking, jangan terlalu menyalahkan org dan islam itu fleksibel, jangan kaku2 amat

4. -

5. Kalau masalah wall to wall ini menurut ana emang agak mengganjal. Tergantung niatnya jg sih, kalau ikhwan-akhwat itu mnggunakan socmed untuk ngobrol, tp krn mgkn ga ada pulsa, atau apalah yg mgkn penting jg buat diketahui org lain,rsnya ga masalah. Tp kalau buat ngbrol ngumbar2 yg ga penting rsnya bagusnya dihindari.

6. Narsis buat lucu2an ga masalah lah, jd keinget lagu aku anak rohis bukan teroris, kan ada lirik lagunya, "aku anak rohis,selalu optimis,bukannya sok narsis,kami memang manis" asal jangan berlebihan aja ngaku2 aja, sampai dipampang dijidad "gue manis" haha

7. Kalau ke lawan jenis, rsnya ga ahsan aja,kan itu mengundang syahwat dan godaan setan

8. Kalau emang udh ganteng/cantik ga bisa ditutupin lg terus upload foto, ya mau gimana lg, tp sarannya buat akhwat yg doyan upload foto, mending dikurangin, krn akhwat ini sering jd sasaran kejahatan dunia maya menjaga izzah dan iffah

9. Interaksi yang sewajarnya aja, ada kalau dibutuhkan, dan tidak mengundang syahwat dan prasangka bg org lain. Tidak berinteraksi di tempat sepi, tidak berdua2an, tidak mendekati zina 10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?

10. Kalau dr pengalaman ana sendiri di sekolah, cukup kecewa, karena interaksi ikhwan-akhwat tidak sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam, dan kadang tidak cukup untuk memberi teladan kepada temen2 yg awam. Tp ini ga berlaku umum kok, mungkin di tempat lain tidak demikian.

11. Semoga aktivis dakwah menjadi pribadi yang disegani tapi tidak ditakuti. Tetap menebar dakwah dimanapun berada, tidak takut kecuali takut pada Allah, dan berani memperjuangkan islam hingga akhir hayat Hamasah calon penghuni syurga :')



ukht HaFau: 
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
- kondisional, kalau dlm keadaan umum ya wajar.Kalau dia menggunakan panggilan akh/ukh didepan situasi umum terkesan membeda2kan atau bahkan mengistimewakan.Kalau dalam kondisi dimana disitu adlh ikhwah smw baru panggilan aku-km/gue-elo dirasa tidak wajar, karna ada panggilan yg lbih sopan dr itu.

2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
- Tidak ahsan (tdk baik), karena bukan hak nya mengomentari fisik ataupun sesuatu yang lain yg bukan urusannya.

3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
- (ˇ_ˇ'!l) malu ngeliatnya.Sebaiknya mah jangan lah. Kalau mau ngunggah foto pribadi mah yang natural aja.

4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
- kondisional, apa yg dibicarakan. Apakah (1) sesuatu yg penting dan urgent. Atau hanya (2) sekadar basa-basi. Kalau ternyata alasan yg kedua, ya tinggalin aja.Pasti tau lah mana yg penting mana yg nggak.

5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
-wah wah jangan-jangan... Sesuatu! Harus dihindari lah, kalau ga penting2 amat mah.karna kabiasaan itu akan melekat dan mau gak mau bisa timbul perasaan tuh! </3

7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
-udah dijawab sekalian diatas noh ( ˘̶̀• ̯•˘̶́ )

8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
- nggak ahsan siih,.. Tp sbnrnya yg salah ya 22nya. Knp coba kepoin foto orang.

9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan)
-tdk berlebihan

10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
-Gmn yaa.. Biasa aja

11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?
- lebih berkualitas


ukht ZAre: 
1. Soal panggilan menurut saya sih bebas, senyamannya aja asal orangnya tidak merasa terganggu Tp ada beberapa yg menganggap aku-kamu itu spesial, tp engga menurut saya

2. Ga ahsan

3. Gaya yg imut imut itu gimana? Haha sebenernya masang foto yg biasa aja udah kurang ahsan kan?

4. Ngobrolin apaan dulu? Gimana ngobrolnya? Berduaan aja? Duh kalo berduaan mah jelas ga boleh.

5. Kalo sehari ampe 50 notif X_Xasa idupnya maen socmed mulu. Kalo ga penting mah mending ga usah. Apalagi ikhwan-akhwat. Ga enak diliat

6. Kurang ngerti yg ini tp pernah si menyatakan seseorang narsis ketika iya merasa bangga dengan dirinya dan dipaparkan ke khalayak banyak (beda lagi sama sombong). Mungkin maksudnya berbagi pengalaman, tp ada lah yg caranya kurang srek. Terus juga, kadang narsis itu perlu...

7. Narsis ke lawan jenis? Caper? Aduh X_X harusnya sih malu..

8. Untuk hal ini masih belum bisa ngasih pendapat lmyn ribet kayaknya



Ukht MuHi: 
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)? 
-Mungkin krn aku pernah di lingkungan gue-elo, hal itu jd biasa. Malah aku-kamu yg ga biasa, krn panggilan semacam itu spt identik sma yg pacaran. Cuma krn di bdg tingkat kesopanan meningkat, jadilah dibiasakan ber aku-kamu haha. Kalau aku sih tergantung situasi dan kondisi pembicaraannya apa dan dimana, tergantung org yg diajak ngobrolnya jg. Biasanya kalau udh kelewat kenal, kalau engga orgnya songong/nyolot, situasi santai, bahan obrolan ringan, ya terkadang pake bhs itu juga. *ini pendapat apa curhat*

2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya? 
-Tergantung dari sisi apa yg dikomentari

3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho) 
-Caper?

4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama? 
-Sempet agak risih, apalagi kalau obrolannya udah menyangkut hal pribadi yg sebenernya kalaupun dia gatau jg ga jadi masalah haha. Tp gapapalah kepo is care cara ngeresponnya aja paling yg agak dijaga

5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa) 
-Gpp aja sih kalau yg diomonginnya hal yg diperlukan, lebih serem lg kalau becandaannya lewat sms yg tau cuma Allah, mereka berdua, malaikat yg waspada serta syetan yg siap siaga haha

6. Menurut antum wa antunna, gimana sih ikhwan/ akhwat yang narsis itu? (Narsis dalam arti harfiah semisal mengaku ganteng/ cantik. Bukan narsis= hobi foto.) 
-Biasa aja,

7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana? 
-Gpp sebenernya, tp kan kita mana tau yg diajak ngobrolnya nganggap selow atau malah jd naksir

8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya? 
-Emm, emg sebaiknya dikurangin sih utk minimalisir dari hal2 yg tdk diinginkan walaupun mungkin niat awal mengunggah foto itu bukan pamer wajahnya, tp pamer kebahagiaannya -mungkin- Tp tetep ya, emg kayanya harus hati-hati ya :') Naksirnya sih mungkin manusiawi tp yg keren itu yg pinter menjaga hati *eh

9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan).
-Berhubungan sesuai dgn keperluan ye ga? Haha becanda juga wajar kok biar ga serius ataupun kaku, tp ga berlebihan. Tetep dijaga, karena syetan bisa menyusup dari segala arah

10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini? 
-Macem2. Ada yg bener2 minimalisir interaksi bgt. Ada jg yg semakin modern (?) Interaksi nyata-maya teuteup jalaan, tp tetep sama2 slg menjaga. Jaga hati terutama. Yukmari.

11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya? 
-Idem no 9


akh Sidoel: 
Dari semua pertanyaan, yang ana gak ada masalah cuman nomor 1 dan nomor 6. Selebihnya ana gak setuju karena tidak etis dan mengundang hawa nafsu yang dapat menyebabkan dosa yang berkelanjutan


Akh AdRu: 
klau ane ngomentarin dari yang no 3 6 7 8 dlu ya.. klau untuk yang ini tergantung niat dari masing2 pribadinya akh.. kalau tujuannya memakai sesuatu untuk menghargai sesuatu agar tidak ada y terzolimi menurut ana sah2 aj.. tp klau masalah nasis2an itu tujuannya untuk ap? klau becanda mungkin boleh2 aj, asal tidak ada maksiat didalamnya.. tp klau ane sendiri lebih suka ngejaga akh, soalnya klau kita terlalu bnyak menampilkan yang bisa membuat penyakit hati, ria dan lainnya bisa2 bahaya juga kan... tp ane yakin setiap orang punya tujuan dan maksud masing2 dari setiap tindakannya, masalah penilaian tergantung Allah aj.. 

klau untuk interaksi ane masih kurang faham ilmunya akh, setau ane itu ada ilmu tetang itu tersendiri, jadi ane juga masih kurang paham, tp klau untuk sekarng ane, tetap jga2 aj... kya di atas tadi timbul penyakit hati , maksiat dll..



Begitulah tanggapan/ pendapat dari 7 responden tersebut. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah, kesimpulan, dan pelajaran dari survey kecil-kecilan ini. Aamiin. 

Semoga bermanfaat (^_^) 

Jazakallah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Kamis, 27 Juni 2013

Mengenai Aksi

Dulu, sampai awal aku menjadi mahasiswa, aku begitu membenci mahasiswa-mahasiswa yang demo. Aku menilai mereka sebagai orang-orang paling memalukan. Yang mengaku kaum intelektual tapi bertingkah seperti manusia pra-sejarah. Ya. Itulah penilaianku kepada mereka.

Namun kini kenyataannya aku adalah seorang mahasiswa aktivis yang aktif di BEM Universitas dan telah ikut banyak demo atau yang kita sebut dengan "aksi turun ke jalan". Mungkin akan ada yang berkata bahwa aku munafik. Dulu marah-marah dan bilang benci melihat mahasiswa-mahasiswa yang demo tapi sekarang malah ikut-ikutan aksi.

saat century fest di bundaran HI, Jakarta

Tunggu dulu kawan. Dengarkan dulu penjelasanku. Memang benar dan aku mengakuiya bahwa aku dulu membenci mahasiswa pendemo. Namun tahukah engkau itu pendapat yang bisa muncul karena apa?
1. Aku waktu itu tidak terlalu mengetahui akan apa yang sebenarnya terjadi di negara ini.
2. Aku waktu itu tidak tahu bahwa sebelum demo itu dilaksanakan telah dilakukan berbagai macam usaha damai oleh para mahasiswa ini.
3. Aku termakan akan kebohongan media yang hanya menampilkan berita-berita mahasiswa yang demo dengan anarkis.

Kini setelah aku menjadi mahasiswa, di kampus dan di tanah rantau ini aku disuguhi akan hal-hal yang takkan bisa dicerna oleh akal anak-anak sekolahan. Bahkan anak SMA saja tidak akan mampu menganalisa dengan tepat. Di dunia perkuliahan ini aku menyaksikan sendiri keburukan-keburukan yang sedang dialami negeri ini. (Kebaikan yang sedang terjadi? Silahkan lihat saja di televisi. Banyak kok.)

Terlebih saat ini aku aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KEMA) Universitas Padjadjaran (Unpad) 2013 di kementerian Hubungan Internal (Hubin).
logo BEM KEMA Unpad

Saat di BEM inilah pandanganku akan aksi atau demo itu mulai berubah. Aku menyaksikan sendiri mahasiswa-mahasiswa keren ini selalu memikirkan negara ini dalam beraktivitas. Mereka selalu mengkritisi keadaan negeri ini, mendiskusikan cara mensejahterakan masyarakat sekitar kampus bahkan Indonesia, dan lainnya. Aku terkejut. Jadi ini mahasiswa yang sebenarnya.....

Di BEM ini juga aku akhirnya mengetahui birokrasi aksi. Ternyata sebelum aksi turun ke jalan itu dilakukan, biasanya ada tahapan-tahapannya dulu. Mungkin saya akan menjelaskan dengan contoh saja.

Saya akan menggunakan contoh berupa aksi pelemparan air yang dilakukan BEM KEMA Unpad terhadap mobil calon gubernur Jabar yang hendak melakukan debat di Bale Santika, Unpad. Saat mendengar berita ini, saya sangat kaget. Saya tidak menyangka bahwa mahasiswa-mahasiswa keren itu melakukan hal anarkis seperti ini. Keesokan harinya saya langsung menemui Presiden BEM KEMA Unpad 2013, kang Wildan Ghifary, untuk mendapatkan penjelasan mengenai aksi pelemparan itu. Beliaupun menjelaskan, dengan tersenyum akan kepolosan saya dalam hal ini, bahwa aksi tersebut dilakukan karena BEM KEMA Unpad ingin menunjukkan bahwa Unpad adalah kampus yang bersih dari politik dari pihak luar selain politik organisasi internal Unpad. Lalu aksi tersebut sebenarnya dilakukan untuk menarik perhatian para calon gubernur tersebut mau menerima permintaan rakyat Sumedang yang telah dirangkum oleh BEM KEMA Unpad dan mereka mau menanda tangani perjanjian bahwa mereka akan memenuhinya. Dan ternyata sebelum aksi pelemparan itu dilakukan, telah dilakukan aksi dengan cara damai. 
1. Melayangkan surat permintaan untuk dapat bertemu dengan para calon gubernur tersebut di tempat mereka untuk membicarakan mengenai permintaan rakyat Sumedang. Ternyata cara ini tidak dikabulkan.
2. Selanjutnya melayangkan surat untuk dapat bertemu dengan para calon gubernur tersebut di dekat pintu gerbang Unpad (dengan kata lain, di jalan sebelum mereka memasuki Unpad). Ternyata cara inipun tidak digrubis.
3. Karena dua cara damai tersebut tidak juga dikabulkan, maka perlu dilakukan sebuah shock theraphy  kepada para calon gubernur ini agar mereka mau menemui perwakilan BEM ini. Dan hal inipun ternyata bekerja. Akhirnya perwakilan BEM dapat masuk ke tempat debat para calon gubernur dan merekapun menandatangani surat perjanjian akan memenuhi permintaan rakyat Sumedang tersebut jika terpilih.

Setelah mendapat penjelasan ini, jujur saya sangat kaget. Saya tidak pernah menyangka bahwa ternyata mereka ini sudah berusaha untuk menghindari aksi pelemparan air itu terjadi. Saya merasa malu kepada diri saya sendiri karena sudah langsung menilai tanpa mencari tahu dulu. Namun tetap saya masih merasakan keraguan akan yang namanya aksi atau demo.

Lalu tibalah suatu hari ada panggilan aksi ke Kemendikbud. Aku yang pada saat itu masih bingung dan sangat penasaran bagaimana aksi yang sebenarnya, langsung menyatakan keikut sertaanku dalam aksi ini. Aku ingin membuktikan dan menyaksikan sendiri bagaimana aksi kaum intelektual ini sebenarnya. Dengan mengendarai dua bus pariwisata yang telah disediakan pihak rektorat, kamipun berangkat ke Jakrta. Tujuan kami: Kemendikbud.

Setibanya di tempat aksi (kemendikbud), awalnya aku mengira bahwa kami akan langsung turun dari bus, lari ke depan gerbang kemendikbud, teriak-teriak "HIDUP MAHASISWA", ngerusak pagar, bentrok ama polisi, ditangkap, dan akhirnya masuk penjara. Tapi ternyata itu semua hanyalah khayalanku yang sudah teracuni media-media busuk itu. Kenyataanya adalah kami langsung mencari Masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah. Dilanjutkan dengan makan bersama dan bersiap-siap (aku kebagian memegang bendera BEM KEMA Unpad). Setelah berkoordinasi dengan BEM dari Universitas lain yang juga ikutan, baru lah kami mulai bergerak menuju gerbang depan Kemendikbud. Di sinilah aku merasakan getaran yang dahsyat di dadaku saat meneriakkan "HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!" dan menyanyikan lagu Totalitas Perjuangan. 

Saat aksi, selaku pemegang panji, aku bebas bergerak kemana-mana. Dan aku saksikan sendiri di wajah mereka. Wajah yang penuh semangat membara bersuara untuk rakyat Indonesia meski badan mereka sebenarnya sangat letih dengan aktivitas kuliah sehari-hari dan kurang tidur. Dan selama aksi ini tidak ku temukan satupun diatara mereka yang berlaku anarkis. TIDAK SATU PUN! Aku diam. 
aksi di Kemendikbud pada Hari Pendidikan Nasional

Setelah aksi di Kemendikbud itu, akupun rutin mengikuti aksi ke Jakarta bersama BEM KEMA Unpad ini. Diantaranya adalah aksi Century Fest yang dilakukan oleh BEM KEMA Unpad di CFD bundaran HI, Jakarta. Aksi ini merupakan sebuah aksi paling menyenangkan yang pernah aku ikuti. Pada aksi Century Fest ini kami melakukan sebuah aksi kreatif. Yaitu menuntut penuntasan kasus Bank Century. Namun kami menuntutnya bukan dengan orasi-orasi saja. Kami melakukannya dengan bentuk festival. Kami bernyanyi lagu perjuangan bersama. Bahkan ada penampilan aksi teatrikal dari BEM FPIK Unpad dan penampilan dari bapak pengamen asli Jakarta. (Dan hanya di sini aku menemukan aksi yang sambil goyang dangdut). Sekedar info, aksi Century Fest ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang mahasiswa Unpad. Kami berangkat ke Jakarta menggunakan 4 bus pariwisata. 

Pada tanggal 21 Mei 2013, dilaksanakan sebuah aksi oleh aliansi BEM Seluruh Indonesia ke gedung KPK dengan isu yang sama: Menuntu penuntasan kasus bank Century. Di sinilah aku menyaksikan sendiri akan kebohongan yang telah disebar media. Selama aku mengikuti aksi, tidak satupun mahasiswa-mahasiswa ini yang melakukan aksi anarkis ataupun provokatif. Ternyata PIHAK KEPOLISIAN lah yang memprovokasi terjadinya kerusuhan. Aku melihat sendiri ada seorang polisi yang menendang kepala seorang mahasiswa yang tengah duduk menjadi barikade dengan lututnya. Jujur aku sangat marah waktu itu. Aku mengira kawan-kawan lainpun akan marah dan langsung menghajar polisi itu. Ternyat tidak. Mereka malah bersenandung, "Hati-hati.. hati-hati.. Hati-hati provokasi..", dengan irama lagu Trio Macan-Iwak Peyek. Aku diam. Aku tak menyangka.

Nah, itulah penjelasanku dan curhatanku mengenai aksi yang telah ku alami.

Kesimpulannya:
Aku adalah mahasiswa aksi. Aku tidak lagi membenci mahasiswa yang melakukan aksi selama aksi tersebut dilakukan dengan benar. Dan jika engkau ingin menilai dan men-judge para pelaku aksi, maka dengan sangat aku anjurkan padamu agar coba ikut aksi. Ikutilah barang sekali. Setelah itu, aku rela mendengar penilaianmu. 

"Biarlah aku dianggap keras oleh rakyat. Namun yang pasti adalah hidupku takkan ku sia-siakan dan negeri ini takkan ku biarkan menangis lebih lama lagi. Mari kawan. Mari kita bersuara. Mari kita kibarkan lagi sang Merah Putih ini dengan gagahnya."
aksi Century Fest di CFD bundaran HI, Jakarta. Photo by: Dewi Permata Sari (@uwipanda)

Dari ustadz Felix Siauw

tanpa kata tanpa suara namun masih ada cinta | harap semua asa jadi nyata itulah bahagia

semua harap biarlah menjelma dalam lantunan lirik doa | tertutur penuh pengharapan agar dan jadi bagian pahala

aku yang tak sempurna tiadalah pantas mendamba yang sempurna | namun cukup bagiku memiliki penggenap sempurna agama

merajut kasih yang takkan pernah kusesali | merangkai kisah yang takkan pernah kuingkari

jatuhkan hatiku pada yang menghamba kepada-Mu | agar penuh aku dapat menghamba pada-Mu

bukan hanya yang mencintaiku tapi yang mencintai-Mu | karena mencintai-Mu menjamin selamanya cinta padaku

yang setiap bisiknya menambah rinduku pada-Mu | yang setiap tingkahnya mendekatkan diriku pada-Mu

dia yang kurindukan saat tiada | dia yang menyenangkan saat ada

dia yang cemburu saat aku lupa pada-Mu | dia yang sayang saat aku mendamba-Mu

kunanti sampai datang masa | dengan doa kusimpan rasa

Jumat, 27 Mei 2011

Jodoh itu nggak akan lari kemana



Jodoh itu tidak akan lari kemana. Dia sudah tertulis di Lauhul Mahfuz. Untuk apa dirisaukan? Kan belum tentu orang yang kita cintai saat ini adalah jodoh kita. Jadi untuk apa kita kejar? Untuk apa kita pikirkan dia? Lebih baik lupakan saja sebelum menjadi zina hati. Ingat lah! Cinta Allah adalah cinta yang sebenar-benar cinta. Cinta yang abadi. Sedangkan cinta manusia? Hanyalah cinta semu yang tidak akan pernah abadi.

"wanita-wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor dan lelaki yang kotor adalah untuk wanita yang kotor. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik....." (Q.S. An Nur: 26)


Allah sudah berjanji. Dan Dia tidak pernah ingkar akan janji nya.


(^_^)

Kamis, 19 Mei 2011

Balasan yang kontan

Peristiwa ini saya alami sekitar tiga tahun yang lalu. Hanya satu bulan setelah anak saya yang kedua lahir, saya menganggur—perusahaan memberhentikan semua karyawannya (termasuk saya) begitu saja, tanpa memberikan pesangon sepeserpun. Kehilangan pekerjaan, tidak punya tabungan sama sekali, dan dengan orang anak yang masih kecil, sesaat kehidupan kadang kala seperti ingin berhenti.

Suatu pagi, ketika saya sedang menjemur pakaian, itu (dengan mencuci tentunya) merupakan pekerjaan saya pada pagi hari, seorang gadis datang ke pekarangan rumah kontrakan kami dengan tergopoh-gopoh. Matanya berkaca-kaca dan ia bicara dengan suara tangis yang tersendat, “Maaf Pak, saya menganggu…” ujarnya, tanpa basa-basi, “Saya berasal dari Cikampek dan saya hendak ke Plered. Saya kehabisan ongkos. Kalau Bapak berkenan saya ingin menjual kerudung yang tengah saya pakai ini sama Bapak…. Saya sudah tidak punya uang lagi…”

Saya mengernyitkan kening. Bingung bagaimana menanggapinya. Saya kemudian tak urung memintanya untuk menunggu sebentar, dan saya menemui istri di kamar yang tengah menyusui bayi laki-laki kami. Saya terangkan permasalahannya, dan kemudian bertanya padanya, “Kita punya uang berapa lagi sekarang?”

Istri saya menjawab, “Tinggal dua puluh ribu lagi….”

Saya terdiam, namun kemudian berbicara dengan suara sedikit serak. “Bagi dua ya. Kita sedekahkan setengahnya…”

Istri saya setuju. Jauh di lubuk hati saya berpikir keras, cukup apa kemudian Rp. 10 ribu sisanya buat kami untuk kebutuhan satu hari saja? Ada bayi dan seorang anak kecil, dan dua orang dewasa di rumah ini yang perlu makan? Tapi saya tidak berpikir panjang lagi.

Kemudian saya menemui gadis itu yang sudah mencopot kerudungnya. “Berapa lagi yang kamu perlukan untuk sampai ke Plered?” tanya saya.

Jawabnya, “Sekitar Rp. 6000, Pak…”.

“Maaf, ini saya hanya punya segini, semoga bisa bermanfaat…” ujar saya. Gadis itu menyodorkan kerudungnya, “Ini kerudungnya, Pak…”

Saya menggeleng, “Tidak. Kamu pakai kerudung kamu lagi. Bantuan saya tidak ada apa-apanya, hanya semoga saja bisa membantu kamu, setidaknya untuk sampai ke Plered, tujuan kamu…”

Gadis itu menangis lagi, “Terima kasih, Bapak. Saya sudah sejak dari tadi, sudah sejak dari jalan besar sana meminta bantuan, tapi tidak ada yang mau menolong saya… Terima kasih, Bapak…”

Gadis itu permisi. Saya melanjutkan kembali menjemur pakaian dengan otak yang berpikir keras. Uang Rp. 10.000 yang tertinggal bersama kami mungkin akan dibelikan tahu, telur 2, dan sebungkus mi instan. Saya berkata kepada istri saya. “Kamu sama si Teteh (anak perempuan saya yang pertama yang masih berumur 3 tahun) makan sama telur dan tahu. Biar saya makan sama mi saja…”

Istri saya menukas, “Tapi Ayah kan sudah makan mi instan selama tiga hari ini berturut-turut…”

Saya tersenyum, “Untuk periode sekarang, sepertinya nggak apa-apalah dulu. Yang penting kamu sama si Teteh jangan sampai kekurangan gizi dulu…”

Istri saya terdiam, kembali tenggelam menyusui anak kami yang kedua.

Sisa hari itu dilalui dengan biasa saja. Malamnya, saya harus pergi ke pengajian yang letaknya sekitar 4 kilo dari rumah. Saya tidak menggunakan angkot ketika itu karena uang yang tertinggal hanya Rp. 2000 lagi dan saya tinggalkan bersama istri.

Seusai pengajian, ustad yang mengisi pengajian menghampiri saya. “Ini ada titipan dari seseorang…” seraya menyodorkan sebuah amplop. Saya gelagapan, “Dari siapa ya Ustad? Dan titipan apa ini?”

Ustad tersenyum, “Sepertinya uang. Siapa yang memberikannya, tidak perlulah tahu. InsyaAllah, halal dan thoyyib. Katanya ini hanya hadiah saja…”

Saya tidak berkata apa-apa lagi. Di sisi lain saya merasa berat, namun saya juga merasa bersyukur masih ada yang memperhatikan kondisi keluarga saya ketika berada dalam kesulitan. Saya mengucapkan terima kasih dan meminta Ustad untuk menyampaikannya kepadanya.

Di jalan, saya membuka amplop itu ternyata memang berisi uang Rp. 300.000! Subhanallah, itu jumlah yang sangat banyak buat saya. Saya belikan istri martabak telur kesukaan istri dan ketika sampai ke rumah, kami menyantapnya bersama, sementara anak-anak sudah terlelap. Istri saya berujar lirih, “Allah selalu akan mengganti sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan. Mungkin ini berkah dari sedekah tadi pagi yang Ayah berikan…”

Saefullah
(disadur dari www.eramuslim.com) 

Pemuda Indonesia Krisis Keteladanan

Pemuda Indonesia adalah penerus bangsa dalam melanjutkan kiprah para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan dengan suatu hal yang positif. Akan tetapi kemanakah pionir-pionir perubahan itu hari ini? Bangsa Indonesia hari ini seperti kehilangan pendonor semangat yang berdedikasi tinggi pada negaranya mengibarkan bendera penuh kobar semangat. 

Di zaman yang semakin maju dan terdepan ,Indonesia negara yang luas dan kaya akan alamnya serta manusia menunjukkan kemunduran di berbagai sektor. Padahal dengan modal alamiah yang kita miliki, itu semua dapat memudahkan kita untuk mengolah kekayaan yang kita miliki tanpa harus mencarinya jauh-jauh ke Negara lain. Akan tetapi faktanya, Indonesia semakin mengalami kemunduran seperti kemiskinan yang tak tuntas hingga kini dan korupsi yang semakin hidup di Negara ini. 

Hal ini seharusnya menjadi cambukan keras bagi para pemimpin Indonesia dalam mengemban kewajibannya. Sebagai pemimpin yang baik dan benar, semua kesalahan itu dapat dijadikannya bahan renungan dalam kepemimpinannya. Dan dalam Al-Qur’an pun tertulis bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya. 

Sosok pemimpin memiliki pengaruh besar pada akhlak dan moral bangsa yang dipimpinnya. Terutama bagi pemuda dengan jiwa mudanya yang masih sangat labil. Para pemuda dengan gelora semangat yang menggebu-gebu di dalam hatinya akan menjadikan sosok pemimpin sebagai panutan dalam hidup mereka. Mereka tidak akan peduli pada citra baik dan buruknya sosok pemimpin, tapi tiap pemimpin akan dijadikannya panutan dalam kehidupan mereka di masa sekarang dan di masa depan yang terbentang luas. 

Dari berita-berita yang disajikan di televisi swasta maupun nasional, dapat kita lihat berita-berita kriminal tak henti-hentinya menjadi berita utama dalam berita tersebut. Dan tak jarang juga wajah para pemimpin muncul di layar kaca sebagai tersangka dalam sebuah kasus pelanggaran. Bukan hanya itu para pemimpin yang sudah terbukti bersalah pun dengan wajah sumringah masih dapat menyatakan dirinya tidak bersalah dengan menyuap berbagai instansi pemerintahan dengan harta masyarakat yang dirampasnya. 

Ini jugalah yang menjadi penyebab terjadinya kasus narkoba, tawuran atar pelajar, dan perbuatan tak terpuji lainnya antar para pelajar. Kurangnya panutan dan tuntunan serta jauhnya rohani agama pada diri pemuda Indonesia . Yang diperlukan oleh pemuda-pemudi Indonesia saat ini hanyalah teladan yang baik dan sentuhan rohani agama dalam kalbu mereka. 

Mari, kita tunggu, siapakah pemimpin bangsa yang dapat kita jadikan panutan dan teladan bagi hidup kita! Pemimpin yang dapat membawa perubahan baik bagi nusa dan bangsa. 

Oleh: Faris Elzo Syauqi Arafah & Namira Lutfia Mustafa, SMAN 1 Padang

Padang, 7 Februari 2011

Minggu, 01 Mei 2011

Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?

"Akulah petualang, yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya di tengah Bani Adam. Akulah mujahid yang berjuang mengakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif. Akulah lelaki merdeka, yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka ia pun berseru, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?"

Hasan Al-Bana