Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah. Pada tanggal 5 Agustus 2013 kemarin ane melakukan survey kecil-kecilan mengenai Interaksi Ikhwan- Akhwat Bukan Mahram. Dalam survey ini ane menitikberatkan pada persoalan di jejaring sosial atau yang sering disebut media sosial (medsos). Maka dari itu, pertanyaan yang ane ajukan adalah fenomena interaksi ikhwan-akhwat yang sering ane dapati di dunia maya. Baik itu melalui Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr, Blog, Wordpress, dll. Dan untuk survey ini ane tidak akan memberikan kesimpulan. Ane meminta kepada pembaca yang lain untuk menyimpulkan sendiri dan jika berkenan, silahkan kesimpulannya ditulis juga di kolom "komen" postingan ini.
Dalam survey ini, ane mengajukan pertanyaan kepada 45 orang calon responden. Alhamdulillah ada 7 orang yang bersedia memberikan tanggapannya. (bukan. 7 orang ini bukan pendapat terbaik. melainkan memang hanya 7 orang ini yang bersedia memberikan pendapatnya.). Pendapat yang ane tampilkan di sini, insya Allah, asli tanpa edit selain pengeditan terhadap ejaan. Untuk nama, sesuai dengan permintaan responden, nama disamarkan.
Adapun pertanyaan yang ane ajukan adalah:
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
6. Menurut antum wa antunna, gimana sih ikhwan/ akhwat yang narsis itu? (Narsis dalam arti harfiah semisal mengaku ganteng/ cantik. Bukan narsis= hobi foto.)
7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan)
10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?
Pendapat responden:
Akh Lalalalilili:
1. Gak terlalu mengkhususkan memanggil seseorang pakai "aku-kamu" walaupun ke lawan jenis. Kadang manggil masbro juga.
2. Kalau komen foto sih tergantung fotonya. Kalau itu ada foto kita sih apa salahnya?
3. Kalau gaya unyu-unyu mah, susah kalau ini. Kalau ane berfoto selalu unyu walaupun nggak niat. :3
4. Kalau mau ngobrol lama ya tinggal ajak satu temen lain biar jadi bertiga.
5. Kalau ngobrol di twitter sih ane seperlunya aja. Bisa juga banyak kalau perlunya lagi banyak juga.
6. Kalau masalah narsis, no komen deh. Narsis itu kan terkadang mensyukuri nikmat Tuhan.
7. Kalau narsis ke lawan jenis ya orang ada juga menggunakannya sebagai humor belaka.
8. Semua orang ganteng dan cantik menurut ane di foto. Jadi susah mau komentar apa.
9. Ya yang baik dan benar aja, jangan sampai ada kontak fisik kalau bisa.
10 & 11. No komen karena merasa bukan aktivis dakwah. Sarannya sih harus mulai dari diri sendiri.
Ukht NaLu:
1. Kalau menurut ana, masalah sapaan aku-kamu/gue-elo itu bukan masalah prinsip buat sosok aktivis dakwah. Karena, dengan sapaan normal seperti org2 biasa yg mungkin belum terlalu dekat dan mendalami Islam, malah membuat panggilan itu serasa akrab, dan mengurangi kesan eksklusif bagi pejuang dakwah. Aku-kamu juga bahasa indonesia resmi yg tercatat di KBBI, aktivis dakwah jg org Indonesia, jadi rsnya ga perlu maksa pake ana-antum demi pencitraan, aktivis dakwah tetep harus jd diri sendiri dan mempertahankan budaya.
2. Kalau mengomentarinya secara langsung di tempat umum (socmed), rasanya kurang ahsan. Kadang komentarnya bisa menyinggung yg punya foto, dan kadang bisa memancing org lain untuk mengomentari yg bisa berdampak negatif.
3.Kalau masalah foto yg bergaya imut,yg kesannya dibuat2,kembali lagi, kepada yg mengomentarinya. Kadang kita sebagai aktivis dakwah butuh pemakluman. Aktivis dakwah jg manusia punya naluri seperti org biasa. Kadang ikhwan yang menganggap sok imut dan terkesan dibuat-buat itu yang terlalu sensitif. Kalau akhwat terlalu dikerasin,bisa berdampak negatif sama akhwatnya jd risih sama islam. Anggap aja akhwatnya khilaf meletakkan foto, atau kepada yg suka berkomentar, coba positif thinking, jangan terlalu menyalahkan org dan islam itu fleksibel, jangan kaku2 amat
4. -
5. Kalau masalah wall to wall ini menurut ana emang agak mengganjal. Tergantung niatnya jg sih, kalau ikhwan-akhwat itu mnggunakan socmed untuk ngobrol, tp krn mgkn ga ada pulsa, atau apalah yg mgkn penting jg buat diketahui org lain,rsnya ga masalah. Tp kalau buat ngbrol ngumbar2 yg ga penting rsnya bagusnya dihindari.
6. Narsis buat lucu2an ga masalah lah, jd keinget lagu aku anak rohis bukan teroris, kan ada lirik lagunya, "aku anak rohis,selalu optimis,bukannya sok narsis,kami memang manis" asal jangan berlebihan aja ngaku2 aja, sampai dipampang dijidad "gue manis" haha
7. Kalau ke lawan jenis, rsnya ga ahsan aja,kan itu mengundang syahwat dan godaan setan
8. Kalau emang udh ganteng/cantik ga bisa ditutupin lg terus upload foto, ya mau gimana lg, tp sarannya buat akhwat yg doyan upload foto, mending dikurangin, krn akhwat ini sering jd sasaran kejahatan dunia maya menjaga izzah dan iffah
9. Interaksi yang sewajarnya aja, ada kalau dibutuhkan, dan tidak mengundang syahwat dan prasangka bg org lain. Tidak berinteraksi di tempat sepi, tidak berdua2an, tidak mendekati zina 10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
10. Kalau dr pengalaman ana sendiri di sekolah, cukup kecewa, karena interaksi ikhwan-akhwat tidak sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam, dan kadang tidak cukup untuk memberi teladan kepada temen2 yg awam. Tp ini ga berlaku umum kok, mungkin di tempat lain tidak demikian.
11. Semoga aktivis dakwah menjadi pribadi yang disegani tapi tidak ditakuti. Tetap menebar dakwah dimanapun berada, tidak takut kecuali takut pada Allah, dan berani memperjuangkan islam hingga akhir hayat Hamasah calon penghuni syurga :')
ukht HaFau:
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
- kondisional, kalau dlm keadaan umum ya wajar.Kalau dia menggunakan panggilan akh/ukh didepan situasi umum terkesan membeda2kan atau bahkan mengistimewakan.Kalau dalam kondisi dimana disitu adlh ikhwah smw baru panggilan aku-km/gue-elo dirasa tidak wajar, karna ada panggilan yg lbih sopan dr itu.
2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
- Tidak ahsan (tdk baik), karena bukan hak nya mengomentari fisik ataupun sesuatu yang lain yg bukan urusannya.
3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
- (ˇ_ˇ'!l) malu ngeliatnya.Sebaiknya mah jangan lah. Kalau mau ngunggah foto pribadi mah yang natural aja.
4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
- kondisional, apa yg dibicarakan. Apakah (1) sesuatu yg penting dan urgent. Atau hanya (2) sekadar basa-basi. Kalau ternyata alasan yg kedua, ya tinggalin aja.Pasti tau lah mana yg penting mana yg nggak.
5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
-wah wah jangan-jangan... Sesuatu! Harus dihindari lah, kalau ga penting2 amat mah.karna kabiasaan itu akan melekat dan mau gak mau bisa timbul perasaan tuh! </3
7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
-udah dijawab sekalian diatas noh ( ˘̶̀• ̯•˘̶́ )
8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
- nggak ahsan siih,.. Tp sbnrnya yg salah ya 22nya. Knp coba kepoin foto orang.
9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan)
-tdk berlebihan
10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
-Gmn yaa.. Biasa aja
11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?
- lebih berkualitas
ukht ZAre:
1. Soal panggilan menurut saya sih bebas, senyamannya aja asal orangnya tidak merasa terganggu Tp ada beberapa yg menganggap aku-kamu itu spesial, tp engga menurut saya
2. Ga ahsan
3. Gaya yg imut imut itu gimana? Haha sebenernya masang foto yg biasa aja udah kurang ahsan kan?
4. Ngobrolin apaan dulu? Gimana ngobrolnya? Berduaan aja? Duh kalo berduaan mah jelas ga boleh.
5. Kalo sehari ampe 50 notif X_Xasa idupnya maen socmed mulu. Kalo ga penting mah mending ga usah. Apalagi ikhwan-akhwat. Ga enak diliat
6. Kurang ngerti yg ini tp pernah si menyatakan seseorang narsis ketika iya merasa bangga dengan dirinya dan dipaparkan ke khalayak banyak (beda lagi sama sombong). Mungkin maksudnya berbagi pengalaman, tp ada lah yg caranya kurang srek. Terus juga, kadang narsis itu perlu...
7. Narsis ke lawan jenis? Caper? Aduh X_X harusnya sih malu..
8. Untuk hal ini masih belum bisa ngasih pendapat lmyn ribet kayaknya
Ukht MuHi:
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
-Mungkin krn aku pernah di lingkungan gue-elo, hal itu jd biasa. Malah aku-kamu yg ga biasa, krn panggilan semacam itu spt identik sma yg pacaran. Cuma krn di bdg tingkat kesopanan meningkat, jadilah dibiasakan ber aku-kamu haha. Kalau aku sih tergantung situasi dan kondisi pembicaraannya apa dan dimana, tergantung org yg diajak ngobrolnya jg. Biasanya kalau udh kelewat kenal, kalau engga orgnya songong/nyolot, situasi santai, bahan obrolan ringan, ya terkadang pake bhs itu juga. *ini pendapat apa curhat*
2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
-Tergantung dari sisi apa yg dikomentari
3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
-Caper?
4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
-Sempet agak risih, apalagi kalau obrolannya udah menyangkut hal pribadi yg sebenernya kalaupun dia gatau jg ga jadi masalah haha. Tp gapapalah kepo is care cara ngeresponnya aja paling yg agak dijaga
5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
-Gpp aja sih kalau yg diomonginnya hal yg diperlukan, lebih serem lg kalau becandaannya lewat sms yg tau cuma Allah, mereka berdua, malaikat yg waspada serta syetan yg siap siaga haha
6. Menurut antum wa antunna, gimana sih ikhwan/ akhwat yang narsis itu? (Narsis dalam arti harfiah semisal mengaku ganteng/ cantik. Bukan narsis= hobi foto.)
-Biasa aja,
7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
-Gpp sebenernya, tp kan kita mana tau yg diajak ngobrolnya nganggap selow atau malah jd naksir
8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
-Emm, emg sebaiknya dikurangin sih utk minimalisir dari hal2 yg tdk diinginkan walaupun mungkin niat awal mengunggah foto itu bukan pamer wajahnya, tp pamer kebahagiaannya -mungkin- Tp tetep ya, emg kayanya harus hati-hati ya :') Naksirnya sih mungkin manusiawi tp yg keren itu yg pinter menjaga hati *eh
9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan).
-Berhubungan sesuai dgn keperluan ye ga? Haha becanda juga wajar kok biar ga serius ataupun kaku, tp ga berlebihan. Tetep dijaga, karena syetan bisa menyusup dari segala arah
10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
-Macem2. Ada yg bener2 minimalisir interaksi bgt. Ada jg yg semakin modern (?) Interaksi nyata-maya teuteup jalaan, tp tetep sama2 slg menjaga. Jaga hati terutama. Yukmari.
11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?
-Idem no 9
akh Sidoel:
Dari semua pertanyaan, yang ana gak ada masalah cuman nomor 1 dan nomor 6. Selebihnya ana gak setuju karena tidak etis dan mengundang hawa nafsu yang dapat menyebabkan dosa yang berkelanjutan
Akh AdRu:
klau ane ngomentarin dari yang no 3 6 7 8 dlu ya.. klau untuk yang ini tergantung niat dari masing2 pribadinya akh.. kalau tujuannya memakai sesuatu untuk menghargai sesuatu agar tidak ada y terzolimi menurut ana sah2 aj.. tp klau masalah nasis2an itu tujuannya untuk ap? klau becanda mungkin boleh2 aj, asal tidak ada maksiat didalamnya.. tp klau ane sendiri lebih suka ngejaga akh, soalnya klau kita terlalu bnyak menampilkan yang bisa membuat penyakit hati, ria dan lainnya bisa2 bahaya juga kan... tp ane yakin setiap orang punya tujuan dan maksud masing2 dari setiap tindakannya, masalah penilaian tergantung Allah aj..
klau untuk interaksi ane masih kurang faham ilmunya akh, setau ane itu ada ilmu tetang itu tersendiri, jadi ane juga masih kurang paham, tp klau untuk sekarng ane, tetap jga2 aj... kya di atas tadi timbul penyakit hati , maksiat dll..
Begitulah tanggapan/ pendapat dari 7 responden tersebut. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah, kesimpulan, dan pelajaran dari survey kecil-kecilan ini. Aamiin.
Semoga bermanfaat (^_^)
Jazakallah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.