Jumat, 28 Juni 2013

Berita Hari Ini *facepalm*

Salamaik malam kawan-kawan :D

Malam ini saya ingin berbicara mengenai sebuah berita yang (sepertinya) lagi booming beud di Indonesia. Yaitu berita mengenai "Seorang Anggota Ormas Menyiram Lawan Bicaranya di Sebuah Acara Televisi Swasta.". Ya. Begitulah kira-kira garis besar headline berita di Indonesia hari ini.

Untuk videonya mungkin bisa diliat sendiri di link ini
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=vRb-0eJw0gM

Heran. Saat ada salah seorang anggota ormas yang melakukan hal seperti itu, malah rame-rame pada ngecap/ nge-judge dia biadab, kurang ajar, tidak beretika, dan sebagainya. Helllooooooo... Saya mau bertanya deh rasanya ke orang-orang yang langsung nge-judge itu. Pada saat pembantaian umat Islam di Rohingya, mereka pada kemana? Ngata-ngatain para pembantai itu nggak? Lucunya negeri ini. Bener-bener nggak ngerti lagi ama ini negeri. Saatnya aku lanjutkan usaha perubahanku.

Bismillah.. #HamasahFaris

Kamis, 27 Juni 2013

Mengenai Aksi

Dulu, sampai awal aku menjadi mahasiswa, aku begitu membenci mahasiswa-mahasiswa yang demo. Aku menilai mereka sebagai orang-orang paling memalukan. Yang mengaku kaum intelektual tapi bertingkah seperti manusia pra-sejarah. Ya. Itulah penilaianku kepada mereka.

Namun kini kenyataannya aku adalah seorang mahasiswa aktivis yang aktif di BEM Universitas dan telah ikut banyak demo atau yang kita sebut dengan "aksi turun ke jalan". Mungkin akan ada yang berkata bahwa aku munafik. Dulu marah-marah dan bilang benci melihat mahasiswa-mahasiswa yang demo tapi sekarang malah ikut-ikutan aksi.

saat century fest di bundaran HI, Jakarta

Tunggu dulu kawan. Dengarkan dulu penjelasanku. Memang benar dan aku mengakuiya bahwa aku dulu membenci mahasiswa pendemo. Namun tahukah engkau itu pendapat yang bisa muncul karena apa?
1. Aku waktu itu tidak terlalu mengetahui akan apa yang sebenarnya terjadi di negara ini.
2. Aku waktu itu tidak tahu bahwa sebelum demo itu dilaksanakan telah dilakukan berbagai macam usaha damai oleh para mahasiswa ini.
3. Aku termakan akan kebohongan media yang hanya menampilkan berita-berita mahasiswa yang demo dengan anarkis.

Kini setelah aku menjadi mahasiswa, di kampus dan di tanah rantau ini aku disuguhi akan hal-hal yang takkan bisa dicerna oleh akal anak-anak sekolahan. Bahkan anak SMA saja tidak akan mampu menganalisa dengan tepat. Di dunia perkuliahan ini aku menyaksikan sendiri keburukan-keburukan yang sedang dialami negeri ini. (Kebaikan yang sedang terjadi? Silahkan lihat saja di televisi. Banyak kok.)

Terlebih saat ini aku aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KEMA) Universitas Padjadjaran (Unpad) 2013 di kementerian Hubungan Internal (Hubin).
logo BEM KEMA Unpad

Saat di BEM inilah pandanganku akan aksi atau demo itu mulai berubah. Aku menyaksikan sendiri mahasiswa-mahasiswa keren ini selalu memikirkan negara ini dalam beraktivitas. Mereka selalu mengkritisi keadaan negeri ini, mendiskusikan cara mensejahterakan masyarakat sekitar kampus bahkan Indonesia, dan lainnya. Aku terkejut. Jadi ini mahasiswa yang sebenarnya.....

Di BEM ini juga aku akhirnya mengetahui birokrasi aksi. Ternyata sebelum aksi turun ke jalan itu dilakukan, biasanya ada tahapan-tahapannya dulu. Mungkin saya akan menjelaskan dengan contoh saja.

Saya akan menggunakan contoh berupa aksi pelemparan air yang dilakukan BEM KEMA Unpad terhadap mobil calon gubernur Jabar yang hendak melakukan debat di Bale Santika, Unpad. Saat mendengar berita ini, saya sangat kaget. Saya tidak menyangka bahwa mahasiswa-mahasiswa keren itu melakukan hal anarkis seperti ini. Keesokan harinya saya langsung menemui Presiden BEM KEMA Unpad 2013, kang Wildan Ghifary, untuk mendapatkan penjelasan mengenai aksi pelemparan itu. Beliaupun menjelaskan, dengan tersenyum akan kepolosan saya dalam hal ini, bahwa aksi tersebut dilakukan karena BEM KEMA Unpad ingin menunjukkan bahwa Unpad adalah kampus yang bersih dari politik dari pihak luar selain politik organisasi internal Unpad. Lalu aksi tersebut sebenarnya dilakukan untuk menarik perhatian para calon gubernur tersebut mau menerima permintaan rakyat Sumedang yang telah dirangkum oleh BEM KEMA Unpad dan mereka mau menanda tangani perjanjian bahwa mereka akan memenuhinya. Dan ternyata sebelum aksi pelemparan itu dilakukan, telah dilakukan aksi dengan cara damai. 
1. Melayangkan surat permintaan untuk dapat bertemu dengan para calon gubernur tersebut di tempat mereka untuk membicarakan mengenai permintaan rakyat Sumedang. Ternyata cara ini tidak dikabulkan.
2. Selanjutnya melayangkan surat untuk dapat bertemu dengan para calon gubernur tersebut di dekat pintu gerbang Unpad (dengan kata lain, di jalan sebelum mereka memasuki Unpad). Ternyata cara inipun tidak digrubis.
3. Karena dua cara damai tersebut tidak juga dikabulkan, maka perlu dilakukan sebuah shock theraphy  kepada para calon gubernur ini agar mereka mau menemui perwakilan BEM ini. Dan hal inipun ternyata bekerja. Akhirnya perwakilan BEM dapat masuk ke tempat debat para calon gubernur dan merekapun menandatangani surat perjanjian akan memenuhi permintaan rakyat Sumedang tersebut jika terpilih.

Setelah mendapat penjelasan ini, jujur saya sangat kaget. Saya tidak pernah menyangka bahwa ternyata mereka ini sudah berusaha untuk menghindari aksi pelemparan air itu terjadi. Saya merasa malu kepada diri saya sendiri karena sudah langsung menilai tanpa mencari tahu dulu. Namun tetap saya masih merasakan keraguan akan yang namanya aksi atau demo.

Lalu tibalah suatu hari ada panggilan aksi ke Kemendikbud. Aku yang pada saat itu masih bingung dan sangat penasaran bagaimana aksi yang sebenarnya, langsung menyatakan keikut sertaanku dalam aksi ini. Aku ingin membuktikan dan menyaksikan sendiri bagaimana aksi kaum intelektual ini sebenarnya. Dengan mengendarai dua bus pariwisata yang telah disediakan pihak rektorat, kamipun berangkat ke Jakrta. Tujuan kami: Kemendikbud.

Setibanya di tempat aksi (kemendikbud), awalnya aku mengira bahwa kami akan langsung turun dari bus, lari ke depan gerbang kemendikbud, teriak-teriak "HIDUP MAHASISWA", ngerusak pagar, bentrok ama polisi, ditangkap, dan akhirnya masuk penjara. Tapi ternyata itu semua hanyalah khayalanku yang sudah teracuni media-media busuk itu. Kenyataanya adalah kami langsung mencari Masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah. Dilanjutkan dengan makan bersama dan bersiap-siap (aku kebagian memegang bendera BEM KEMA Unpad). Setelah berkoordinasi dengan BEM dari Universitas lain yang juga ikutan, baru lah kami mulai bergerak menuju gerbang depan Kemendikbud. Di sinilah aku merasakan getaran yang dahsyat di dadaku saat meneriakkan "HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!" dan menyanyikan lagu Totalitas Perjuangan. 

Saat aksi, selaku pemegang panji, aku bebas bergerak kemana-mana. Dan aku saksikan sendiri di wajah mereka. Wajah yang penuh semangat membara bersuara untuk rakyat Indonesia meski badan mereka sebenarnya sangat letih dengan aktivitas kuliah sehari-hari dan kurang tidur. Dan selama aksi ini tidak ku temukan satupun diatara mereka yang berlaku anarkis. TIDAK SATU PUN! Aku diam. 
aksi di Kemendikbud pada Hari Pendidikan Nasional

Setelah aksi di Kemendikbud itu, akupun rutin mengikuti aksi ke Jakarta bersama BEM KEMA Unpad ini. Diantaranya adalah aksi Century Fest yang dilakukan oleh BEM KEMA Unpad di CFD bundaran HI, Jakarta. Aksi ini merupakan sebuah aksi paling menyenangkan yang pernah aku ikuti. Pada aksi Century Fest ini kami melakukan sebuah aksi kreatif. Yaitu menuntut penuntasan kasus Bank Century. Namun kami menuntutnya bukan dengan orasi-orasi saja. Kami melakukannya dengan bentuk festival. Kami bernyanyi lagu perjuangan bersama. Bahkan ada penampilan aksi teatrikal dari BEM FPIK Unpad dan penampilan dari bapak pengamen asli Jakarta. (Dan hanya di sini aku menemukan aksi yang sambil goyang dangdut). Sekedar info, aksi Century Fest ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang mahasiswa Unpad. Kami berangkat ke Jakarta menggunakan 4 bus pariwisata. 

Pada tanggal 21 Mei 2013, dilaksanakan sebuah aksi oleh aliansi BEM Seluruh Indonesia ke gedung KPK dengan isu yang sama: Menuntu penuntasan kasus bank Century. Di sinilah aku menyaksikan sendiri akan kebohongan yang telah disebar media. Selama aku mengikuti aksi, tidak satupun mahasiswa-mahasiswa ini yang melakukan aksi anarkis ataupun provokatif. Ternyata PIHAK KEPOLISIAN lah yang memprovokasi terjadinya kerusuhan. Aku melihat sendiri ada seorang polisi yang menendang kepala seorang mahasiswa yang tengah duduk menjadi barikade dengan lututnya. Jujur aku sangat marah waktu itu. Aku mengira kawan-kawan lainpun akan marah dan langsung menghajar polisi itu. Ternyat tidak. Mereka malah bersenandung, "Hati-hati.. hati-hati.. Hati-hati provokasi..", dengan irama lagu Trio Macan-Iwak Peyek. Aku diam. Aku tak menyangka.

Nah, itulah penjelasanku dan curhatanku mengenai aksi yang telah ku alami.

Kesimpulannya:
Aku adalah mahasiswa aksi. Aku tidak lagi membenci mahasiswa yang melakukan aksi selama aksi tersebut dilakukan dengan benar. Dan jika engkau ingin menilai dan men-judge para pelaku aksi, maka dengan sangat aku anjurkan padamu agar coba ikut aksi. Ikutilah barang sekali. Setelah itu, aku rela mendengar penilaianmu. 

"Biarlah aku dianggap keras oleh rakyat. Namun yang pasti adalah hidupku takkan ku sia-siakan dan negeri ini takkan ku biarkan menangis lebih lama lagi. Mari kawan. Mari kita bersuara. Mari kita kibarkan lagi sang Merah Putih ini dengan gagahnya."
aksi Century Fest di CFD bundaran HI, Jakarta. Photo by: Dewi Permata Sari (@uwipanda)

Pengakuan Dari Blogger yang Akhirnya Sadar Akan yang Namanya LABIL

Aku sadari bahwa postinganku selama ini banyak yang labil dan membuktikan bahwa aku hanyalah seorang manusia biasa yang lemah. Maaf.

Dari ustadz Felix Siauw

tanpa kata tanpa suara namun masih ada cinta | harap semua asa jadi nyata itulah bahagia

semua harap biarlah menjelma dalam lantunan lirik doa | tertutur penuh pengharapan agar dan jadi bagian pahala

aku yang tak sempurna tiadalah pantas mendamba yang sempurna | namun cukup bagiku memiliki penggenap sempurna agama

merajut kasih yang takkan pernah kusesali | merangkai kisah yang takkan pernah kuingkari

jatuhkan hatiku pada yang menghamba kepada-Mu | agar penuh aku dapat menghamba pada-Mu

bukan hanya yang mencintaiku tapi yang mencintai-Mu | karena mencintai-Mu menjamin selamanya cinta padaku

yang setiap bisiknya menambah rinduku pada-Mu | yang setiap tingkahnya mendekatkan diriku pada-Mu

dia yang kurindukan saat tiada | dia yang menyenangkan saat ada

dia yang cemburu saat aku lupa pada-Mu | dia yang sayang saat aku mendamba-Mu

kunanti sampai datang masa | dengan doa kusimpan rasa