Di subuh ini aku kembali dihampiri rasa sesal yang dulu telah melumpuhkan semangat diri ini. Ya. Aku menyesal. Kenapa dulu aku mengambil keputusan itu. Keputusan untuk merelakan kuliah yang sudah aku jalani ini. Merelakan IPK ku jeblok demi mengejar hal yang tak pasti melalui SBMPTN itu.
Akibatnya? Impian dan harapan (beberapa orang) dulu tidak bisa ku wujudkan. Kini ku lihat. Mereka. Ya. Mereka. Teman-temanku yang satu jalan dan pendidikan keorganisasian denganku dulu, kini mereka telah maju untuk menjadi Ketua Himpunan bahkan Ketua BEM Fakultas mereka.
Aku? Aku yang bahkan pada saat pelatihan mereka pilih menjadi ketua mereka? Cuma di sini. Ya. Di sini. Duduk diam termenung menjadi tim sukses.
Menjadi pemandu sorak. Orang balik layar. Gerakan terbatas. Bertugas mengelukan nama orang lain.
Teriris. Ya. Aku merasa teriris.
Mereka maju. Berperang. Berusaha menjadi yang terdepan agar dapat mudah menebar kebaikan. Aku? Masih. Ya. Masih jadi orang di balik layar.
Sedih? Jelas. Galau? Apalagi. Jatuh? Iya. Nggak punya harapan? Hmm...
Mungkin memang benar aku merasa kehilangan harapan (emang lebay sih kayak telenovela). Kurang semangat. Iya. Aku akui. Justru karena memikirkan hal-hal seperti ini kuliahku menjadi semakin terbengkalai.
Tapi, beruntungnya aku. Aku memiliki teman-teman (ya. Aku masih memiliki teman) yang senantiasa dapat menjadi pengingatku.
Contohnya salah satu sahabatku yang aku tau dia juga sedang berjuang untuk kesembuhan dirinya, Wahidatul Wafa. Beberapa hari yang lalu, dia membuat status di FB yang berbunyi:
"Ketika dihadapkan atas dua pilihan atau lebih, maka solusinya adalah segera memilih. Dan ketika berani memilih, berarti harus dua kali lebih siap. Siap menjalankan dan siap menanggung resikonya.. Be strong Fa.".
"Ketika dihadapkan atas dua pilihan atau lebih, maka solusinya adalah segera memilih. Dan ketika berani memilih, berarti harus dua kali lebih siap. Siap menjalankan dan siap menanggung resikonya.. Be strong Fa.".
Mungkin dia membuat status ini untuk menyemangati dirinya sendiri. Namun, aku di sini yang membacanya merasa seperti disentil. Seakan-akan Wafa ini berbicara langsung kepadaku. Ya. Memang Wafa adalah salah satu sahabat yang sering ku mintai nasehatnya. Maaf ya Fa belum jenguk kamu lagi. Hehehehe...
Berikutnya ada salah satu sahabat dekatku di kampus ini. Hafidh Mulyawan. Di subuh ini aku BBM si jomblo satu ini (ya. Aku yakin dia belum tidur). Aku utarakan kegalauan dan kesedihanku. Dan aku, jujur, terkejut dengan jawabannya.
"Wew terus kenapa harus jadi beban pikiran buat lo, coy? Semua orang punya jalan masing-masing. Jangan selalu lo berfikir orang lain kayal gitu lo juga harus kayak gitu. Lo punya jalan lo sendiri. Mungkin nggak sekarang, tapi ntar lo bakal liat lo jadi ketua apa nantinya.".
#MAKJLEB!
Aku langsung tersadarkan. Bukankah ini kalimat yang sering aku ucapkan pada teman-teman yang mengadukan kesedihannya padaku? Ya. Di subuh ini Allah kembali mengingatkan diriku, melalui jomblo yang bernama Hafidh ini, akan pentingnya keikhlasan dan kesabaran.
Ya. Mungkin hal ini bagi sebagian orang adalah hal biasa bahkan hal remeh. Namun tidak bagiku. Hal ini lumayan besar pengaruhnya.
Kini, setelah diingatkan seperti ini, sudah saatnya aku bertingkah dan bertindak sebagaimana seorang muslim sejati: OPTIMIS! Semangat Fastabiqul Khairat!
Bismillah. Tak pernah ada kata terlambat. Bukankah aku ini seorang muslim pejuang? (^_^)

