Kamis, 21 November 2013

Diingatkan di Subuh Hari

Di subuh ini aku kembali dihampiri rasa sesal yang dulu telah melumpuhkan semangat diri ini. Ya. Aku menyesal. Kenapa dulu aku mengambil keputusan itu. Keputusan untuk merelakan kuliah yang sudah aku jalani ini. Merelakan IPK ku jeblok demi mengejar hal yang tak pasti melalui SBMPTN itu. 

Akibatnya? Impian dan harapan (beberapa orang) dulu tidak bisa ku wujudkan. Kini ku lihat. Mereka. Ya. Mereka. Teman-temanku yang satu jalan dan pendidikan keorganisasian denganku dulu, kini mereka telah maju untuk menjadi Ketua Himpunan bahkan Ketua BEM Fakultas mereka. 
Aku? Aku yang bahkan pada saat pelatihan mereka pilih menjadi ketua mereka? Cuma di sini. Ya. Di sini. Duduk diam termenung menjadi tim sukses. 

Menjadi pemandu sorak. Orang balik layar. Gerakan terbatas. Bertugas mengelukan nama orang lain.

Teriris. Ya. Aku merasa teriris. 

Mereka maju. Berperang. Berusaha menjadi yang terdepan agar dapat mudah menebar kebaikan. Aku? Masih. Ya. Masih jadi orang di balik layar. 

Sedih? Jelas. Galau? Apalagi. Jatuh? Iya. Nggak punya harapan? Hmm...

Mungkin memang benar aku merasa kehilangan harapan (emang lebay sih kayak telenovela). Kurang semangat. Iya. Aku akui. Justru karena memikirkan hal-hal seperti ini kuliahku menjadi semakin terbengkalai. 

Tapi, beruntungnya aku. Aku memiliki teman-teman (ya. Aku masih memiliki teman) yang senantiasa dapat menjadi pengingatku. 
Contohnya salah satu sahabatku yang aku tau dia juga sedang berjuang untuk kesembuhan dirinya, Wahidatul Wafa. Beberapa hari yang lalu, dia membuat status di FB yang berbunyi:
"Ketika dihadapkan atas dua pilihan atau lebih, maka solusinya adalah segera memilih. Dan ketika berani memilih, berarti harus dua kali lebih siap. Siap menjalankan dan siap menanggung resikonya.. Be strong Fa.".
Mungkin dia membuat status ini untuk menyemangati dirinya sendiri. Namun, aku di sini yang membacanya merasa seperti disentil. Seakan-akan Wafa ini berbicara langsung kepadaku. Ya. Memang Wafa adalah salah satu sahabat yang sering ku mintai nasehatnya. Maaf ya Fa belum jenguk kamu lagi. Hehehehe...

Berikutnya ada salah satu sahabat dekatku di kampus ini. Hafidh Mulyawan. Di subuh ini aku BBM si jomblo satu ini (ya. Aku yakin dia belum tidur). Aku utarakan kegalauan dan kesedihanku. Dan aku, jujur, terkejut dengan jawabannya. 
"Wew terus kenapa harus jadi beban pikiran buat lo, coy? Semua orang punya jalan masing-masing. Jangan selalu lo berfikir orang lain kayal gitu lo juga harus kayak gitu. Lo punya jalan lo sendiri. Mungkin nggak sekarang, tapi ntar lo bakal liat lo jadi ketua apa nantinya.".
#MAKJLEB! 
Aku langsung tersadarkan. Bukankah ini kalimat yang sering aku ucapkan pada teman-teman yang mengadukan kesedihannya padaku? Ya. Di subuh ini Allah kembali mengingatkan diriku, melalui jomblo yang bernama Hafidh ini, akan pentingnya keikhlasan dan kesabaran.

Ya. Mungkin hal ini bagi sebagian orang adalah hal biasa bahkan hal remeh. Namun tidak bagiku. Hal ini lumayan besar pengaruhnya. 

Kini, setelah diingatkan seperti ini, sudah saatnya aku bertingkah dan bertindak sebagaimana seorang muslim sejati: OPTIMIS! Semangat Fastabiqul Khairat!

Bismillah. Tak pernah ada kata terlambat. Bukankah aku ini seorang muslim pejuang? (^_^) 

Sabtu, 16 November 2013

Kapankah Datangnya Pelangi

Di balik senja aku menanti
Sendiri. Menatap iri.

Di balik jendela ku berdiri
Sendiri. Termenung sepi.

Diantara dunia dan privasi
Sendiri. Hampa terasa hati ini

Diantara jalanan dan kamar ini
Sendiri. Berat nafas ku ini.

Diantara awan dan bumi
Sendiri. Muhasabah diri.

Diantara bulan dan matahari
Sendiri. Bergumam tak berarti.

Diantara angin dan rintik hujan ini
Sendiri. Ke bertanya pada hati
"Kapankah datangnya pelangi?"




“Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira”. (Qs. Ar-Rum: 48)

Pelangi Dimalam Hari

Awan hitam pekat
Pemandangan berkabut

Udara malam nan dingin
Gigil. Menusuk tulang

Nafaskupun berembun
Dalam diam menyaksikan

Elok paras indah lakumu
Lekukanmu yang mempesona

Menggoda iman tuk tetap menatapmu
Menyaksikan indahnya ciptaan-Nya

Warnamu yang menunjukkan kecantikan
Meski gelap mengelilingi

Bisikan halusmu di telingaku
"Tenanglah. Aku kan selalu ada di sisimu."

Indah cahaya terpancar di lengkungan senyummu
Terang. Mengoyak pekatnya gelap malam ini

Dirimu yang selalu ku nanti setelah hujan
Senantiasa hadir menemuiku

Seakan ingin ku peluk tak ku lepas
Erat. Setiap waktu semakin erat

Ingin ku jamahi setiap sisi tubuhmu
Dan ku koarkan pada dunia

"Inilah Pelangi di Malam Hari!"


Selasa, 05 November 2013

Tersadarkan

Dalam temaram cahaya kamar. Dalam sunyinya malam. Dalam gundahnya jiwa. Dalam rapuhnya hati. Dalam lemahnya badan. Dalam keringnya ruhiah.

Aku merenung. Ya. Hal yang belakangan sudah jarang ku lakukan.

3 Minggu. 3 Minggu ini terasa sebagai minggu-minggu terburuk dalam hidupku. Akademik keteteran. Amanah beberapa terlalaikan. Sosial terasingkan. Kesehatan tak terperhatikan.

Bingung. Secara psikologis aku sedang tidak stabil. Terlebih hari Minggu kemaren aku termakan telur yang sebenarnya sudah mencapai tahap "busuk". Maka jadi lah psikologis tak stabil dan badan tak beres.

Tadi akhirnya aku beranikan diriku untuk memberitahu Mama mengenai keadaanku. Aku ceritakan mengenai kesehatanku. Aku tanyai kesehatan beliau. Aku tanyai keadaan Papa. Aku tanyai kabar keluargaku yang lainnya. Lalu sampailah ke bagian pertanyaan beliau, "Gimana kuliah kamu, Nak?". Diam. Aku hanya bisa terdiam.

Namun, tak mungkin aku pendam terus rasa ini sendirian. Aku hidup di negeri rantau. Di negeri orang. Dalam sudut pandang dunia, aku sendiri di sini. Di sini aku tak tau akan cerita kepada siapa mengenai masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Tidak ada. Tidak ada orang-orang yang cukup bisa dipercaya di sini. Dan hingga kini belum ku temukan orang-orang yang akan bisa mengerti diriku.

Maka jadilah ku ceritakan semua kepada Mama. Akademikku yang keteteran. Frekuensi keterlambatan ku yang meningkat. Laporan yang sering tertunda pengumpulannya. Beberapa UTS yang jawabannya Allahu'alam. Dan alasan mengapa semua ini bisa terjadi masih belum aku ketahui.

Setelah aku bercerita, Mama langsung mengulangi kalimat yang beliau gunakan untuk membangkitkanku saat aku terjatuh karena tak lulus SNMPTN dulu. "Semuanya udah digariskan oleh Allah. Mama yakin kamu udah lebih dari ngerti akan hal ini. Percaya sama apa yang ditentuin Allah. Karena Dia lah yang menguasai kita.".

Tersentak. Aku seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Dan aku langsung tau apa sebenarnya penyebab hari-hariku yang buruk ini.
1) Amalan Yaumi yang berkurang.
2) Aku masih belum mengikhlaskan fakta bahwa aku tidak lulus lagi untuk masuk FK tahun ini.

Mama pun bilang, "Mama nggak maksa kamu buat bertahan di sana. Kalau kamu mau ngulang lagi, silahkan. Justru Mama lebih senang kalau kamu kuliah di Padang aja. Tapi, kalau bisa kamu tetap ngelanjutin kuliah yang udah kamu mulai. Jangan dilepasin. Kalau misalnya kamu nggak dapat lagi, toh kamu udah ada kuliah yang jalan juga kan? Jadi jangan sampai kamu kehilangan yang udah kamu punya demi mengejar yang belum pasti kamu dapetin.".

Yak. Air mata aku pun luluh. Aku merasa sangat hina. Sangat kufur nikmat.

Sejak telepon itu ditutup, maka mulailah diri ini memantapkan diri tuk memperbaiki keburukan-keburukan tadi.

Maka benarlah bahwa aku masih belum menjadi orang yang ikhlas. Aku masih harus banyak belajar lagi.

Memang. Orangtua adalah yang paling mengerti tentang kita, anaknya.

Selamat Tahun Baru 1435H, Mama & Papa (^_^)