Assalamu'alaikum wr. wb.
Episode 1
Aku : "Ukhti, afwan jika kurang berkenan. Tapi ana ingin bertanya sesuatu. Berkenan kah?"
Fulana : "Boleh akhi."
Aku : "Apakah antum benar berpacaran?"
Fulana : "Nggak kok akhi. Pasti karena lihat relationship status ana di FB ya?"
Aku : "Iya ukhti. Jadi antum tidak benar-benar berpacaran?"
Fulana : "Tentu tidak akhi."
Aku : "Alhamdulillah. Tapi kalau begitu, kenapa di FB antum buat status berpacaran?"
Fulana : "Hahahaha... Itu hanya untuk membuat sensasi dan bercanda akhi. Jangan dianggap serius."
Aku : "Ooo.. Hahahaha... Tapi tahukah antum, bahwa antum sudah melakukan-kalau tidak ana tidak salah hitung- 3 kesalahan?"
Fulana : "3 kesalahan? Maksudnya akhi?"
Aku : "Afwan (lagi) sebelumnya ukhti. Begini, mengenai status 'berpacaran' yang antum buat itu. Di sana terkandung unsur kebohongan yang mengakibatkan terjadinya prasangka buruk dan fitnah. Pertama,antum membuat status berpacaran, tapi kenyataanya antum tidak berpacaran. Bukankah itu suatu kebohongan?"
<Dia tidak membalas beberapa saat. Agaknya terdiam>
Fulana : "Iya. Tapi kan ana sudah menjelaskan kepada teman-teman ana tentang yang sebenarnya."
Aku : "Apakah benar telah kepada semuanya? Apakah benar semua 'friends' antum di FB itu tau akan kebenaran itu?"
<Dia terdiam lagi>
Fulana : "Tidak akhi."
Aku : "Nah, berarti mereka semua yang tidak mengetahui kebenaran itu telah termakan 'kebohongan' antum bukan? Dari situ lah akan timbul su'udzan. Mereka pasti kebanyakan akan berprasangka bahwa antum itu benar-benar berpacaran seperti orang-orang jahilyah itu. Yang seenaknya merubah EYD dalam menulis(kata sayang dirubah menjadi 'yang'/'yank'/dll) dan tidak bisa membedakan antara huruf dengan angka (kata GAUL menjadi G4OeLz5s atau lainnya) itu. Lalu apakah antum tau akibatnya yang lebih besar? Akhirnya,nantinya organisasi kita lah yang dikatakan tidak bermutu/tidak berguna/bahkan dibilang sesat. Masa' organisasi keagamaan tapi anggotanya malah melanggar hukum agama. Bagus kalau organisasi kita tidak terkena. Tapi jika ternyata antum sendiri yang difitnah,bagaimana? Ingat ukhti. Dunia maya ini tidak bisa diajak main-main. Fitnah mudah terjadi dan menyebar di sini."
<terdiam lama lagi. *mungkin ngebacanya lama atau dia lagi pergi makan sambil nunggu karena Aku ngetiknya lama.>
Fulana : "Astaghfirullah... Antum benar ya akhi. Afwan, ana khilaf. Thayib. Akan ana perbaiki secepatnya. Syukran jazakallah ya akhi."
Aku : "Alhamdulillah, afwan ya ukhti. Afwan jika ada yang kurang berkenan."
<Offline>
*Ini terjadi di chat FB.
Episode 2
Suatu sore, aku sedang berkumpul bersama teman-teman dekatku. Seperti biasa, kami saling berbagi cerita. Baik itu cerita yang heroik, menyedihkan/mengharukan, apalagi yang lucu. Tapi, tiba-tiba salah seorang temanku menceritakan sebuah pengalaman lucu (dirinya) yang aku tahu itu tak pernah terjadi. Setelah yang lain pulang, tinggal aku dan dia. Maka langsung terjadi percakapan berikut.
Aku : "Hei Fulan, kisah lucu yang engkau ceritakan tadi itu tidak pernah terjadi kan?"
Fulan : "Ya. Tentu saja. Kenapa?"
Aku : "Mengapa engkau berbohong? Kau tahu kan, bohong itu dosa, kawan."
Fulan : "Aku tahu. Tapi aku hanya ingin melihat kebahagiaan di wajah kalian karena mendengar ceritaku. Bukankah membuat orang bahagia merupakan suatu pahala? Hahahaha..."
Aku : "Astaghfirullah. Tak tahukah engkau? Kau baru saja melakukan 3 dosa sekaligus! Engkau berbohong pada dirimu & kepada teman-temanmu dan engkau juga telah melanggar larangan Rasulullah Muhammad SAW.!"
Fulan : "Kalau yang berbohong itu aku akui. Tapi apa maksudmu dengan 'melanggar larangan Rasulullah Muhammad SAW.?"
Aku : "Begini. Aku pernah membaca sebuah buku. Di sana dikatakan bahwa (*)Rasulullah melarang keras umatnya untuk berbohong sekalipun kebohongan itu untuk bahan lelucon."
Fulan : "Benarkah itu? Mana buktinya? Apa nama buku itu?"
Aku : "Afwan, aku lupa nama buku itu."
Fulan : "Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi ada satu pesanku."
Aku : "Apa itu?"
Fulan : "Lain kali (menyelempangkan tas nya) kalau mau mengingatkan orang itu, perkuat dulu dasarmu. Cukupkan dulu buktimu."
Aku : (tersenyum) "Insya Allah." (mengangguk)
(*)Dalil yang sebenarnya:
Dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya radhiallahu anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
“Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, kemudian celakalah dia”. (HR. Abu Daud no. 4990, At-Tirmizi no. 2315, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7136)
---------------------------------------------------
Note ini tidak terikat pada suatu individu, organisasi, golongan atau yang lainnya. Note ini adalah untuk semua orang.
Semoga bermanfaat. Afwan, jika ada yang kurang berkenan. Dan terima kasih banyak jika ada kritik dan saran.
Assalamu'alaikum wr. wb.
(^_^)