Rabu, 23 Oktober 2013

Saksikan Aku Seorang Muslim Pejuang


Jalan pejuang bukan jalan yang mudah.

Jalan pejuang bukan jalan yang mulus.

Jalan pejuang bukan jalan yang santai.




Jalan pejuang adalah jalan yang membuat kita bersusah-susah.

Jalan pejuang adalah jalan yang membuat kita layaknya batu karang di pantai.

Jalan pejuang adalah jalan yang menyita waktu untuk istirahat.




Dan karena itu lah kita disebut pejuang.




Semua susah meski bermandi darah, takkan menyurutkan semangat seorang pejuang.

Semua peluh yang bercampur airmata, takkan mengguyahkan idealisme tuk menegakkan kebenaran walau jalannya penuh onak dan duri.

Semua usaha yang dilakukan senantiasa dilakukan hanya karena Illah. Lillahi ta'ala.




"Saksikan aku seorang muslim pejuang."

~Arafah, Faris E. S.. 2013. Jatinangor. 22.40 WIB.

Rabu, 25 September 2013

Jika engkau merasa dirimu bukanlah apa-apa, ketahuilah. Banyak yang berpikir bahwa engkau memiliki segalanya.

"Usah kau lihat ke atas. Belajarlah untuk melihat ke bawah."

Seharusnya Tidak Diam

Elektron itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Atom itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Sel itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Molekul itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Jaringan itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Organ itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Alam itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Bumi itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Planet-planet itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Galaksi itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Alam semesta itu tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Tubuh itu seharusnya tidak diam. Tapi bergerak. Bergerak dalam dzikir pada Allah. 

Bagaimanakah tubuh kita? Benarkah tubuh kita telah bergerak dalam dzikir pada Allah SWT. ?

Sejatinya, Aku Hanyalah Musafir.

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak kenalan. Namun belum memiliki teman sejati. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak kegiatan. Namun belum meninggalkan bekas yang berarti. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak melangkah. Namun belum menentukan arah. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak bersuara. Namun belum tentu didengar. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak bertanya. Namun belum tentu dijawab. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak kendala. Namun belum juga belajar. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak waktu luang. Namun masa muda ini banyak terbuang. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak kesempatan. Namun masih banyak yang disia-siakan. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak impian. Namun masih saja malas bergerak mewujudkan. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Banyak pikiran. Namun tak kunjung menyelesaikan urusan. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Mengaku bisa banyak hal. Namun tak kunjung membuktikan. 

Sejatinya, aku hanyalah musafir. Ya. Musafir kehidupan. Dalam perjalanan menuju akhir. 



Kamis, 12 September 2013

Merindukan Aksi

Iwan Fals- Bongkar

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Penindasan serta kesewenang wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Dijalanan kami sandarkan cita cita
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Oh oh

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Jujur. Aku sungguh merindukan aksi turun ke jalan. Bukan berarti aku menginginkan negeri ini terus memiliki masalah sehingga mahasiswa akan sering turun ke jalan. Bukan. Aku hanya ingin kembali berteriak lantang demi negeri ini. Aku hanya ingin mengguncang dunia dengan raungan ini bersama dengan mahasiswa lainnya.

Ya. Aku rindu aksi...

Senin, 02 September 2013

Survey: Interaksi Ikhwan-Akhwat Bukan Mahram

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah. Pada tanggal 5 Agustus 2013 kemarin ane melakukan survey kecil-kecilan mengenai Interaksi Ikhwan- Akhwat Bukan Mahram. Dalam survey ini ane menitikberatkan pada persoalan di jejaring sosial atau yang sering disebut media sosial (medsos). Maka dari itu, pertanyaan yang ane ajukan adalah fenomena interaksi ikhwan-akhwat yang sering ane dapati di dunia maya. Baik itu melalui Facebook, Twitter, Plurk, Tumblr, Blog, Wordpress, dll. Dan untuk survey ini ane tidak akan memberikan kesimpulan. Ane meminta kepada pembaca yang lain untuk menyimpulkan sendiri dan jika berkenan, silahkan kesimpulannya ditulis juga di kolom "komen" postingan ini.

Dalam survey ini, ane mengajukan pertanyaan kepada 45 orang calon responden. Alhamdulillah ada 7 orang yang bersedia memberikan tanggapannya. (bukan. 7 orang ini bukan pendapat terbaik. melainkan memang hanya 7 orang ini yang bersedia memberikan pendapatnya.). Pendapat yang ane tampilkan di sini, insya Allah, asli tanpa edit selain pengeditan terhadap ejaan. Untuk nama, sesuai dengan permintaan responden, nama disamarkan.

Adapun pertanyaan yang ane ajukan adalah:
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
6. Menurut antum wa antunna, gimana sih ikhwan/ akhwat yang narsis itu? (Narsis dalam arti harfiah semisal mengaku ganteng/ cantik. Bukan narsis= hobi foto.)
7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan)
10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?

Pendapat responden:

Akh Lalalalilili:
1. Gak terlalu mengkhususkan memanggil seseorang pakai "aku-kamu" walaupun ke lawan jenis. Kadang manggil masbro juga.
2. Kalau komen foto sih tergantung fotonya. Kalau itu ada foto kita sih apa salahnya?
3. Kalau gaya unyu-unyu mah, susah kalau ini. Kalau ane berfoto selalu unyu walaupun nggak niat. :3
4. Kalau mau ngobrol lama ya tinggal ajak satu temen lain biar jadi bertiga.
5. Kalau ngobrol di twitter sih ane seperlunya aja. Bisa juga banyak kalau perlunya lagi banyak juga.
6. Kalau masalah narsis, no komen deh. Narsis itu kan terkadang mensyukuri nikmat Tuhan.
7. Kalau narsis ke lawan jenis ya orang ada juga menggunakannya sebagai humor belaka. 
8. Semua orang ganteng dan cantik menurut ane di foto. Jadi susah mau komentar apa. 
9. Ya yang baik dan benar aja, jangan sampai ada kontak fisik kalau bisa. 
10 & 11. No komen karena merasa bukan aktivis dakwah. Sarannya sih harus mulai dari diri sendiri.


Ukht NaLu:
1. Kalau menurut ana, masalah sapaan aku-kamu/gue-elo itu bukan masalah prinsip buat sosok aktivis dakwah. Karena, dengan sapaan normal seperti org2 biasa yg mungkin belum terlalu dekat dan mendalami Islam, malah membuat panggilan itu serasa akrab, dan mengurangi kesan eksklusif bagi pejuang dakwah. Aku-kamu juga bahasa indonesia resmi yg tercatat di KBBI, aktivis dakwah jg org Indonesia, jadi rsnya ga perlu maksa pake ana-antum demi pencitraan, aktivis dakwah tetep harus jd diri sendiri dan mempertahankan budaya.

2. Kalau mengomentarinya secara langsung di tempat umum (socmed), rasanya kurang ahsan. Kadang komentarnya bisa menyinggung yg punya foto, dan kadang bisa memancing org lain untuk mengomentari yg bisa berdampak negatif. 


3.Kalau masalah foto yg bergaya imut,yg kesannya dibuat2,kembali lagi, kepada yg mengomentarinya. Kadang kita sebagai aktivis dakwah butuh pemakluman. Aktivis dakwah jg manusia punya naluri seperti org biasa. Kadang ikhwan yang menganggap sok imut dan terkesan dibuat-buat itu yang terlalu sensitif. Kalau akhwat terlalu dikerasin,bisa berdampak negatif sama akhwatnya jd risih sama islam. Anggap aja akhwatnya khilaf meletakkan foto, atau kepada yg suka berkomentar, coba positif thinking, jangan terlalu menyalahkan org dan islam itu fleksibel, jangan kaku2 amat

4. -

5. Kalau masalah wall to wall ini menurut ana emang agak mengganjal. Tergantung niatnya jg sih, kalau ikhwan-akhwat itu mnggunakan socmed untuk ngobrol, tp krn mgkn ga ada pulsa, atau apalah yg mgkn penting jg buat diketahui org lain,rsnya ga masalah. Tp kalau buat ngbrol ngumbar2 yg ga penting rsnya bagusnya dihindari.

6. Narsis buat lucu2an ga masalah lah, jd keinget lagu aku anak rohis bukan teroris, kan ada lirik lagunya, "aku anak rohis,selalu optimis,bukannya sok narsis,kami memang manis" asal jangan berlebihan aja ngaku2 aja, sampai dipampang dijidad "gue manis" haha

7. Kalau ke lawan jenis, rsnya ga ahsan aja,kan itu mengundang syahwat dan godaan setan

8. Kalau emang udh ganteng/cantik ga bisa ditutupin lg terus upload foto, ya mau gimana lg, tp sarannya buat akhwat yg doyan upload foto, mending dikurangin, krn akhwat ini sering jd sasaran kejahatan dunia maya menjaga izzah dan iffah

9. Interaksi yang sewajarnya aja, ada kalau dibutuhkan, dan tidak mengundang syahwat dan prasangka bg org lain. Tidak berinteraksi di tempat sepi, tidak berdua2an, tidak mendekati zina 10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?

10. Kalau dr pengalaman ana sendiri di sekolah, cukup kecewa, karena interaksi ikhwan-akhwat tidak sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam, dan kadang tidak cukup untuk memberi teladan kepada temen2 yg awam. Tp ini ga berlaku umum kok, mungkin di tempat lain tidak demikian.

11. Semoga aktivis dakwah menjadi pribadi yang disegani tapi tidak ditakuti. Tetap menebar dakwah dimanapun berada, tidak takut kecuali takut pada Allah, dan berani memperjuangkan islam hingga akhir hayat Hamasah calon penghuni syurga :')



ukht HaFau: 
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)?
- kondisional, kalau dlm keadaan umum ya wajar.Kalau dia menggunakan panggilan akh/ukh didepan situasi umum terkesan membeda2kan atau bahkan mengistimewakan.Kalau dalam kondisi dimana disitu adlh ikhwah smw baru panggilan aku-km/gue-elo dirasa tidak wajar, karna ada panggilan yg lbih sopan dr itu.

2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya?
- Tidak ahsan (tdk baik), karena bukan hak nya mengomentari fisik ataupun sesuatu yang lain yg bukan urusannya.

3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho)
- (ˇ_ˇ'!l) malu ngeliatnya.Sebaiknya mah jangan lah. Kalau mau ngunggah foto pribadi mah yang natural aja.

4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama?
- kondisional, apa yg dibicarakan. Apakah (1) sesuatu yg penting dan urgent. Atau hanya (2) sekadar basa-basi. Kalau ternyata alasan yg kedua, ya tinggalin aja.Pasti tau lah mana yg penting mana yg nggak.

5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa)
-wah wah jangan-jangan... Sesuatu! Harus dihindari lah, kalau ga penting2 amat mah.karna kabiasaan itu akan melekat dan mau gak mau bisa timbul perasaan tuh! </3

7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana?
-udah dijawab sekalian diatas noh ( ˘̶̀• ̯•˘̶́ )

8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya?
- nggak ahsan siih,.. Tp sbnrnya yg salah ya 22nya. Knp coba kepoin foto orang.

9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan)
-tdk berlebihan

10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini?
-Gmn yaa.. Biasa aja

11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya?
- lebih berkualitas


ukht ZAre: 
1. Soal panggilan menurut saya sih bebas, senyamannya aja asal orangnya tidak merasa terganggu Tp ada beberapa yg menganggap aku-kamu itu spesial, tp engga menurut saya

2. Ga ahsan

3. Gaya yg imut imut itu gimana? Haha sebenernya masang foto yg biasa aja udah kurang ahsan kan?

4. Ngobrolin apaan dulu? Gimana ngobrolnya? Berduaan aja? Duh kalo berduaan mah jelas ga boleh.

5. Kalo sehari ampe 50 notif X_Xasa idupnya maen socmed mulu. Kalo ga penting mah mending ga usah. Apalagi ikhwan-akhwat. Ga enak diliat

6. Kurang ngerti yg ini tp pernah si menyatakan seseorang narsis ketika iya merasa bangga dengan dirinya dan dipaparkan ke khalayak banyak (beda lagi sama sombong). Mungkin maksudnya berbagi pengalaman, tp ada lah yg caranya kurang srek. Terus juga, kadang narsis itu perlu...

7. Narsis ke lawan jenis? Caper? Aduh X_X harusnya sih malu..

8. Untuk hal ini masih belum bisa ngasih pendapat lmyn ribet kayaknya



Ukht MuHi: 
1. Bagaimana pandangan antum wa antunna jika ada aktivis dakwah yang menggunakan kata panggilan "aku-kamu/gue-elo" ke teman-temannya bahkan ke yang lawan jenis (termasuk sesama aktivis dakwah)? 
-Mungkin krn aku pernah di lingkungan gue-elo, hal itu jd biasa. Malah aku-kamu yg ga biasa, krn panggilan semacam itu spt identik sma yg pacaran. Cuma krn di bdg tingkat kesopanan meningkat, jadilah dibiasakan ber aku-kamu haha. Kalau aku sih tergantung situasi dan kondisi pembicaraannya apa dan dimana, tergantung org yg diajak ngobrolnya jg. Biasanya kalau udh kelewat kenal, kalau engga orgnya songong/nyolot, situasi santai, bahan obrolan ringan, ya terkadang pake bhs itu juga. *ini pendapat apa curhat*

2. Menurut antum wa antunna, apakah ahsan jika seorang ikhwan mengomentari hal-hal yang seperti foto profil FB, dp bbm, ava twitter, dll dari seorang akhwat yang bukan mahramnya (atau sebaliknya)? Alasannya? 
-Tergantung dari sisi apa yg dikomentari

3. Apa pandangan antum wa antunna mengenai akhwat yang suka berfoto dengan gaya imut yang dibuat-buat lalu di-unggah ke media sosial? Lalu terhadap ikhwan yang melakukan hal yang sama? (Ada lho) 
-Caper?

4. Apa yang antum wa antunna rasakan jika ada lawan jenis (bukan mahram) yang terkesan ingin mengobrol lama-lama? 
-Sempet agak risih, apalagi kalau obrolannya udah menyangkut hal pribadi yg sebenernya kalaupun dia gatau jg ga jadi masalah haha. Tp gapapalah kepo is care cara ngeresponnya aja paling yg agak dijaga

5. Bagaimana penilaian antum wa antunna mengenai ikhwan-akhwat yang SERING ngobrol dengan wall-to-wall di FB/ mensyen-mensyenan di twitter (Misalnya yang sehari bisa bikin 50-an notifikasi)? (Pertanyaan ini tidak berlaku untuk yang sering chatting/ bbm-an/ yang serupa) 
-Gpp aja sih kalau yg diomonginnya hal yg diperlukan, lebih serem lg kalau becandaannya lewat sms yg tau cuma Allah, mereka berdua, malaikat yg waspada serta syetan yg siap siaga haha

6. Menurut antum wa antunna, gimana sih ikhwan/ akhwat yang narsis itu? (Narsis dalam arti harfiah semisal mengaku ganteng/ cantik. Bukan narsis= hobi foto.) 
-Biasa aja,

7. Menyambung pertanyaan nomor 6. Jika dia narsisnya ke lawan jenis gimana? 
-Gpp sebenernya, tp kan kita mana tau yg diajak ngobrolnya nganggap selow atau malah jd naksir

8. Menurut antum wa antunna, ahsan kah jika seorang ikhwan/ akhwat mengunggah foto yang memperlihatkan kegantengan/ kecantikannya (sampai-sampai bisa membuat orang lain kagum bahkan naksir karena melihat foto itu) ke socmed? Alasannya? 
-Emm, emg sebaiknya dikurangin sih utk minimalisir dari hal2 yg tdk diinginkan walaupun mungkin niat awal mengunggah foto itu bukan pamer wajahnya, tp pamer kebahagiaannya -mungkin- Tp tetep ya, emg kayanya harus hati-hati ya :') Naksirnya sih mungkin manusiawi tp yg keren itu yg pinter menjaga hati *eh

9. Menurut antum wa antunna, bagaimana interaksi cowok-cewek/ ikhwan-akhwat bukan mahram yang seharusnya? (Jika menjawab "sesuai syari'at Islam" atau serupa, tolong dijabarkan).
-Berhubungan sesuai dgn keperluan ye ga? Haha becanda juga wajar kok biar ga serius ataupun kaku, tp ga berlebihan. Tetep dijaga, karena syetan bisa menyusup dari segala arah

10. Menurut antum wa antunna, bagaimana kualitas interaksi ikhwan-akhwat (bukan mahram) aktivis dakwah di masa kini? 
-Macem2. Ada yg bener2 minimalisir interaksi bgt. Ada jg yg semakin modern (?) Interaksi nyata-maya teuteup jalaan, tp tetep sama2 slg menjaga. Jaga hati terutama. Yukmari.

11. Apa harapan anta/ anti terhadap interaksi ikhwan-akhwat aktivis dakwah yang bukan mahram untuk ke depannya? 
-Idem no 9


akh Sidoel: 
Dari semua pertanyaan, yang ana gak ada masalah cuman nomor 1 dan nomor 6. Selebihnya ana gak setuju karena tidak etis dan mengundang hawa nafsu yang dapat menyebabkan dosa yang berkelanjutan


Akh AdRu: 
klau ane ngomentarin dari yang no 3 6 7 8 dlu ya.. klau untuk yang ini tergantung niat dari masing2 pribadinya akh.. kalau tujuannya memakai sesuatu untuk menghargai sesuatu agar tidak ada y terzolimi menurut ana sah2 aj.. tp klau masalah nasis2an itu tujuannya untuk ap? klau becanda mungkin boleh2 aj, asal tidak ada maksiat didalamnya.. tp klau ane sendiri lebih suka ngejaga akh, soalnya klau kita terlalu bnyak menampilkan yang bisa membuat penyakit hati, ria dan lainnya bisa2 bahaya juga kan... tp ane yakin setiap orang punya tujuan dan maksud masing2 dari setiap tindakannya, masalah penilaian tergantung Allah aj.. 

klau untuk interaksi ane masih kurang faham ilmunya akh, setau ane itu ada ilmu tetang itu tersendiri, jadi ane juga masih kurang paham, tp klau untuk sekarng ane, tetap jga2 aj... kya di atas tadi timbul penyakit hati , maksiat dll..



Begitulah tanggapan/ pendapat dari 7 responden tersebut. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah, kesimpulan, dan pelajaran dari survey kecil-kecilan ini. Aamiin. 

Semoga bermanfaat (^_^) 

Jazakallah. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Jumat, 28 Juni 2013

Berita Hari Ini *facepalm*

Salamaik malam kawan-kawan :D

Malam ini saya ingin berbicara mengenai sebuah berita yang (sepertinya) lagi booming beud di Indonesia. Yaitu berita mengenai "Seorang Anggota Ormas Menyiram Lawan Bicaranya di Sebuah Acara Televisi Swasta.". Ya. Begitulah kira-kira garis besar headline berita di Indonesia hari ini.

Untuk videonya mungkin bisa diliat sendiri di link ini
http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=vRb-0eJw0gM

Heran. Saat ada salah seorang anggota ormas yang melakukan hal seperti itu, malah rame-rame pada ngecap/ nge-judge dia biadab, kurang ajar, tidak beretika, dan sebagainya. Helllooooooo... Saya mau bertanya deh rasanya ke orang-orang yang langsung nge-judge itu. Pada saat pembantaian umat Islam di Rohingya, mereka pada kemana? Ngata-ngatain para pembantai itu nggak? Lucunya negeri ini. Bener-bener nggak ngerti lagi ama ini negeri. Saatnya aku lanjutkan usaha perubahanku.

Bismillah.. #HamasahFaris

Kamis, 27 Juni 2013

Mengenai Aksi

Dulu, sampai awal aku menjadi mahasiswa, aku begitu membenci mahasiswa-mahasiswa yang demo. Aku menilai mereka sebagai orang-orang paling memalukan. Yang mengaku kaum intelektual tapi bertingkah seperti manusia pra-sejarah. Ya. Itulah penilaianku kepada mereka.

Namun kini kenyataannya aku adalah seorang mahasiswa aktivis yang aktif di BEM Universitas dan telah ikut banyak demo atau yang kita sebut dengan "aksi turun ke jalan". Mungkin akan ada yang berkata bahwa aku munafik. Dulu marah-marah dan bilang benci melihat mahasiswa-mahasiswa yang demo tapi sekarang malah ikut-ikutan aksi.

saat century fest di bundaran HI, Jakarta

Tunggu dulu kawan. Dengarkan dulu penjelasanku. Memang benar dan aku mengakuiya bahwa aku dulu membenci mahasiswa pendemo. Namun tahukah engkau itu pendapat yang bisa muncul karena apa?
1. Aku waktu itu tidak terlalu mengetahui akan apa yang sebenarnya terjadi di negara ini.
2. Aku waktu itu tidak tahu bahwa sebelum demo itu dilaksanakan telah dilakukan berbagai macam usaha damai oleh para mahasiswa ini.
3. Aku termakan akan kebohongan media yang hanya menampilkan berita-berita mahasiswa yang demo dengan anarkis.

Kini setelah aku menjadi mahasiswa, di kampus dan di tanah rantau ini aku disuguhi akan hal-hal yang takkan bisa dicerna oleh akal anak-anak sekolahan. Bahkan anak SMA saja tidak akan mampu menganalisa dengan tepat. Di dunia perkuliahan ini aku menyaksikan sendiri keburukan-keburukan yang sedang dialami negeri ini. (Kebaikan yang sedang terjadi? Silahkan lihat saja di televisi. Banyak kok.)

Terlebih saat ini aku aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (KEMA) Universitas Padjadjaran (Unpad) 2013 di kementerian Hubungan Internal (Hubin).
logo BEM KEMA Unpad

Saat di BEM inilah pandanganku akan aksi atau demo itu mulai berubah. Aku menyaksikan sendiri mahasiswa-mahasiswa keren ini selalu memikirkan negara ini dalam beraktivitas. Mereka selalu mengkritisi keadaan negeri ini, mendiskusikan cara mensejahterakan masyarakat sekitar kampus bahkan Indonesia, dan lainnya. Aku terkejut. Jadi ini mahasiswa yang sebenarnya.....

Di BEM ini juga aku akhirnya mengetahui birokrasi aksi. Ternyata sebelum aksi turun ke jalan itu dilakukan, biasanya ada tahapan-tahapannya dulu. Mungkin saya akan menjelaskan dengan contoh saja.

Saya akan menggunakan contoh berupa aksi pelemparan air yang dilakukan BEM KEMA Unpad terhadap mobil calon gubernur Jabar yang hendak melakukan debat di Bale Santika, Unpad. Saat mendengar berita ini, saya sangat kaget. Saya tidak menyangka bahwa mahasiswa-mahasiswa keren itu melakukan hal anarkis seperti ini. Keesokan harinya saya langsung menemui Presiden BEM KEMA Unpad 2013, kang Wildan Ghifary, untuk mendapatkan penjelasan mengenai aksi pelemparan itu. Beliaupun menjelaskan, dengan tersenyum akan kepolosan saya dalam hal ini, bahwa aksi tersebut dilakukan karena BEM KEMA Unpad ingin menunjukkan bahwa Unpad adalah kampus yang bersih dari politik dari pihak luar selain politik organisasi internal Unpad. Lalu aksi tersebut sebenarnya dilakukan untuk menarik perhatian para calon gubernur tersebut mau menerima permintaan rakyat Sumedang yang telah dirangkum oleh BEM KEMA Unpad dan mereka mau menanda tangani perjanjian bahwa mereka akan memenuhinya. Dan ternyata sebelum aksi pelemparan itu dilakukan, telah dilakukan aksi dengan cara damai. 
1. Melayangkan surat permintaan untuk dapat bertemu dengan para calon gubernur tersebut di tempat mereka untuk membicarakan mengenai permintaan rakyat Sumedang. Ternyata cara ini tidak dikabulkan.
2. Selanjutnya melayangkan surat untuk dapat bertemu dengan para calon gubernur tersebut di dekat pintu gerbang Unpad (dengan kata lain, di jalan sebelum mereka memasuki Unpad). Ternyata cara inipun tidak digrubis.
3. Karena dua cara damai tersebut tidak juga dikabulkan, maka perlu dilakukan sebuah shock theraphy  kepada para calon gubernur ini agar mereka mau menemui perwakilan BEM ini. Dan hal inipun ternyata bekerja. Akhirnya perwakilan BEM dapat masuk ke tempat debat para calon gubernur dan merekapun menandatangani surat perjanjian akan memenuhi permintaan rakyat Sumedang tersebut jika terpilih.

Setelah mendapat penjelasan ini, jujur saya sangat kaget. Saya tidak pernah menyangka bahwa ternyata mereka ini sudah berusaha untuk menghindari aksi pelemparan air itu terjadi. Saya merasa malu kepada diri saya sendiri karena sudah langsung menilai tanpa mencari tahu dulu. Namun tetap saya masih merasakan keraguan akan yang namanya aksi atau demo.

Lalu tibalah suatu hari ada panggilan aksi ke Kemendikbud. Aku yang pada saat itu masih bingung dan sangat penasaran bagaimana aksi yang sebenarnya, langsung menyatakan keikut sertaanku dalam aksi ini. Aku ingin membuktikan dan menyaksikan sendiri bagaimana aksi kaum intelektual ini sebenarnya. Dengan mengendarai dua bus pariwisata yang telah disediakan pihak rektorat, kamipun berangkat ke Jakrta. Tujuan kami: Kemendikbud.

Setibanya di tempat aksi (kemendikbud), awalnya aku mengira bahwa kami akan langsung turun dari bus, lari ke depan gerbang kemendikbud, teriak-teriak "HIDUP MAHASISWA", ngerusak pagar, bentrok ama polisi, ditangkap, dan akhirnya masuk penjara. Tapi ternyata itu semua hanyalah khayalanku yang sudah teracuni media-media busuk itu. Kenyataanya adalah kami langsung mencari Masjid untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah. Dilanjutkan dengan makan bersama dan bersiap-siap (aku kebagian memegang bendera BEM KEMA Unpad). Setelah berkoordinasi dengan BEM dari Universitas lain yang juga ikutan, baru lah kami mulai bergerak menuju gerbang depan Kemendikbud. Di sinilah aku merasakan getaran yang dahsyat di dadaku saat meneriakkan "HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!" dan menyanyikan lagu Totalitas Perjuangan. 

Saat aksi, selaku pemegang panji, aku bebas bergerak kemana-mana. Dan aku saksikan sendiri di wajah mereka. Wajah yang penuh semangat membara bersuara untuk rakyat Indonesia meski badan mereka sebenarnya sangat letih dengan aktivitas kuliah sehari-hari dan kurang tidur. Dan selama aksi ini tidak ku temukan satupun diatara mereka yang berlaku anarkis. TIDAK SATU PUN! Aku diam. 
aksi di Kemendikbud pada Hari Pendidikan Nasional

Setelah aksi di Kemendikbud itu, akupun rutin mengikuti aksi ke Jakarta bersama BEM KEMA Unpad ini. Diantaranya adalah aksi Century Fest yang dilakukan oleh BEM KEMA Unpad di CFD bundaran HI, Jakarta. Aksi ini merupakan sebuah aksi paling menyenangkan yang pernah aku ikuti. Pada aksi Century Fest ini kami melakukan sebuah aksi kreatif. Yaitu menuntut penuntasan kasus Bank Century. Namun kami menuntutnya bukan dengan orasi-orasi saja. Kami melakukannya dengan bentuk festival. Kami bernyanyi lagu perjuangan bersama. Bahkan ada penampilan aksi teatrikal dari BEM FPIK Unpad dan penampilan dari bapak pengamen asli Jakarta. (Dan hanya di sini aku menemukan aksi yang sambil goyang dangdut). Sekedar info, aksi Century Fest ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang mahasiswa Unpad. Kami berangkat ke Jakarta menggunakan 4 bus pariwisata. 

Pada tanggal 21 Mei 2013, dilaksanakan sebuah aksi oleh aliansi BEM Seluruh Indonesia ke gedung KPK dengan isu yang sama: Menuntu penuntasan kasus bank Century. Di sinilah aku menyaksikan sendiri akan kebohongan yang telah disebar media. Selama aku mengikuti aksi, tidak satupun mahasiswa-mahasiswa ini yang melakukan aksi anarkis ataupun provokatif. Ternyata PIHAK KEPOLISIAN lah yang memprovokasi terjadinya kerusuhan. Aku melihat sendiri ada seorang polisi yang menendang kepala seorang mahasiswa yang tengah duduk menjadi barikade dengan lututnya. Jujur aku sangat marah waktu itu. Aku mengira kawan-kawan lainpun akan marah dan langsung menghajar polisi itu. Ternyat tidak. Mereka malah bersenandung, "Hati-hati.. hati-hati.. Hati-hati provokasi..", dengan irama lagu Trio Macan-Iwak Peyek. Aku diam. Aku tak menyangka.

Nah, itulah penjelasanku dan curhatanku mengenai aksi yang telah ku alami.

Kesimpulannya:
Aku adalah mahasiswa aksi. Aku tidak lagi membenci mahasiswa yang melakukan aksi selama aksi tersebut dilakukan dengan benar. Dan jika engkau ingin menilai dan men-judge para pelaku aksi, maka dengan sangat aku anjurkan padamu agar coba ikut aksi. Ikutilah barang sekali. Setelah itu, aku rela mendengar penilaianmu. 

"Biarlah aku dianggap keras oleh rakyat. Namun yang pasti adalah hidupku takkan ku sia-siakan dan negeri ini takkan ku biarkan menangis lebih lama lagi. Mari kawan. Mari kita bersuara. Mari kita kibarkan lagi sang Merah Putih ini dengan gagahnya."
aksi Century Fest di CFD bundaran HI, Jakarta. Photo by: Dewi Permata Sari (@uwipanda)

Pengakuan Dari Blogger yang Akhirnya Sadar Akan yang Namanya LABIL

Aku sadari bahwa postinganku selama ini banyak yang labil dan membuktikan bahwa aku hanyalah seorang manusia biasa yang lemah. Maaf.

Dari ustadz Felix Siauw

tanpa kata tanpa suara namun masih ada cinta | harap semua asa jadi nyata itulah bahagia

semua harap biarlah menjelma dalam lantunan lirik doa | tertutur penuh pengharapan agar dan jadi bagian pahala

aku yang tak sempurna tiadalah pantas mendamba yang sempurna | namun cukup bagiku memiliki penggenap sempurna agama

merajut kasih yang takkan pernah kusesali | merangkai kisah yang takkan pernah kuingkari

jatuhkan hatiku pada yang menghamba kepada-Mu | agar penuh aku dapat menghamba pada-Mu

bukan hanya yang mencintaiku tapi yang mencintai-Mu | karena mencintai-Mu menjamin selamanya cinta padaku

yang setiap bisiknya menambah rinduku pada-Mu | yang setiap tingkahnya mendekatkan diriku pada-Mu

dia yang kurindukan saat tiada | dia yang menyenangkan saat ada

dia yang cemburu saat aku lupa pada-Mu | dia yang sayang saat aku mendamba-Mu

kunanti sampai datang masa | dengan doa kusimpan rasa