Senin, 21 April 2014

Mengenai Shalat (part 1)


Diriwayatkan, ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid di waktu Rasulullah SAW sedang duduk. Lalu orang itu melaksanakan shalat. Setelah itu ia memberi salam kepada Rasulullah SAW., tetapi Nabi menolaknya seraya bersabda, “Ulangi shalatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum shalat!”
Kemudian lelaki itu mengulangi shalatnya. Setelah itu ia datang dan memberi salam kepada Rasulullah, tetapi Nabi SAW menolaknya sambil berkata, “Ulangilah shalatmu, (sebenarnya) kamu belum shalat!”
Laki-laki itu pun mengulangi shalat untuk ketiga kalinya. Selesai shalat ia kembali memberi salam kepada Nabi SAW. Tetapi lagi-lagi beliau menolaknya, dan bersabda, “Ulangilah shalatmu, sebab kamu itu belum melakukan shalat!”
“Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar wahai Rasulullah, Inilah shalatku yang terbaik. Sungguh, aku tak bisa melakukan lebih dari ini, maka ajarkanlah shalat yang baik kepadaku,”
tanya lelaki itu.
“Apabila kamu berdiri (untuk melakukan) shalat, hendaklah dimulai dengan takbir, lalu membaca ayat-ayat Al Qur’an yang engkau anggap paling mudah, lalu rukuklah dengan tenang, kemudian beri’tidallah dengan tegak, lalu sujudlah dengan tenang dan lakukanlah seperti ini pada shalatmu semuanya.” (HR. Bukhari)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPPlRpWV 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


“Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) punggungnya ketika ruku’ dan sujud” (HR. Abu Dawud: 1/ 533)
Semoga kita senantiasa memperbaiki shalat kita, agar tujuan shalat yang tertuang dalam Al Qur’an surat Al-’Ankabuut ayat 45 benar-benar dapat terwujud. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkarWallahu a’lam bis showab.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQKOwQY 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


“Sungguh sejahat-jahatnya pencuri dari kalangan manusia adalah orang yang mencuri shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud mencuri shalatnya?” Beliau Saw berkata, “Ia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Dan sungguh orang yang paling pelit (kikir) adalah orang yang pelit mengucapkan salam. (HR. Thabrani & Hakim)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQQ7nEY 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Dalam redaksi Ahmad & ath-Thayalisi, Dari Abu Hurairah radhiallahu’ anhu berkata: “Kekasihku Rasulullah sallalloohu ‘alaihi wa sallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang dan duduk seperti kera.”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQYKjgL 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


“Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad SAW, dia menyambar shalatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/05/24937/para-pencuri-shalat/#ixzz2kPQaus1n 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Jumat, 11 April 2014

Di Dunia Ini


"Di dunia ini... 
Dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja yang sadar. 
Dari yang sadar itu, hanya sedikit saja yang ber-Islam. 
Dari mereka yang ber-Islam, hanya sedikit yang berdakwah. 
Dari mereka yang berdakwah, hanya sedikit yang berjuang. 
Dari sedikit yang berjuang, hanya sedikit yang bersabar.  
Dari yang bersabar itu... 
Hanya sedikit saja dari mereka yang sampai pada akhir perjalanan."

Sabtu, 05 April 2014

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah



Sebait catatan nasihat
(Alm) Ustadz Rahmat Abdullah
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Setiap kita akan senantiasa diuji oleh Allah SWT pada titik-titik kelemahan kita.
Orang yang lemah dalam urusan uang namun kuat terhadap fitnah jabatan dan wanitatidak akan pernah diuji dengan wanita atau jabatan.
Tetapi orang yang lemah dalam urusan wanita namun kuat dalam urusan uang tidak akan pernah diuji dengan masalah keuangan.
Orang yang mudah tersinggung dan gampang marah akan senantiasa dipertemukan oleh Allah dengan orang yang akan membuatnya tersinggung dan marah sampai ia bisa memperbaiki titik kelemahannya itu sehingga menjadi tidak mudah tersinggung dan tidak pemarah.
Orang yang selalu berlambat-lambat menghadiri pertemuan forum dakwah karena alasan istri, anak, mertua, atau tamu akan senantiasa dipertemukan dengan perkara ‘mertua datang, tamu datang silih berganti’ di saat ia akan berangkat .. terus begitu sampai ia memilih prioritas bagi aktivitasnya apakah kepada dakwah atau kepada perkara-perkara lain.
Kita semua harus memahami dan mengatasi segala kelemahan diri di jalan dakwah ini. Ingatlah, mushaf Al-Quran tidak akan pernah terbang sendiri kemudian datang dan memukuli orang-orang yang bermaksiat.
Sungguh teramat merugi...mereka yang mengikuti hawa nafsu kemudian pergi meninggalkan kebersamaan dlm dakwah ilallah, tanpa mau bersabar sebentar dalam ujian keimanan. Tanpa mau mencoba bertahan sebentar dalam dekapan ukhuwah..
Dan sungguh, Kecewa itu biasa dan manusiawi' yang luar biasa, siapa saja yang mampu beristighfar dan lalu berlapang dada serta bertawakkal pada-Nya.
Memang... Dakwah ini berat...karenanya ia hanya mampu dipikul oleh mereka yang memiliki hati sekuat baja..
memiliki kesabaran lebih panjang dari usianya.
Memiliki kekuatan yang berlipat.
Memiliki keihklasan dalam beramal yang meninggi.
Memiliki ketabahan seluas lautan, memiliki keyakinan sekokoh pegunungan.
Siapapun takan pernah bisa bertahan...melalui jalan dakwah ini...mengarungi jalan perjuangan...kecuali dengan KESABARAN!!!
Karenanya... Tetaplah disini...dijalan ini...bersama kafilah dakwah ini. Seberat apapun perjalanan yang harus ditempuh...sebesar apapun pengorbanan untuk menebusnya...tetaplah disini...
Buanglah hawa nafsu dalam mengarungi perjalanannya, karena telah banyak yang bergugugran karenanya. Gandenglah selalu iman kemana saja kita melangkah, karena iman akan menjagamu setiap waktu. Seburuk apapun, sekeruh apapun kondisi kapal layar kita, jangan lah sekali2 mencoba untuk keluar dari kapal layar ini dan memutuskan berenang seorang diri...karena pasti kau akan kelelahan dan memutuskan menghentikan langkah yang pada akhirnya tenggelam di samudra kehidupan...
Jika bersama dakwah saja...kau serapuh itu...bagaimana mungkin dengan seorang diri?? Sekuat apa kau jika seorang diri...???



Jangan Terburu

“Kalau menghafal 1 hari 1 ayat, lalu kapan bisa jadi hafiz 30 juz?!” tanya FULAN, seorang pria kepada saya. Sebisanya saya membalas. “Bila 1 hari engkau hafalkan 1 ayat, maka dalam 1 tahun engkau akan hafalkan 365 ayat, bukan?” Si fulan menganggukkan kepala.
“Jika kau teruskan kebiasaan menghafal 1 ayat sehari, maka in syaa Allah dalam 10 tahun engkau akan hafal 3650 ayat. Betul gak?!” tanyaku padanya mendesak. Si fulan pun kembali mengangguk.
“Lalu kalau dua puluh tahun, berapa ayat yang bisa didapat…?!” kembali aku memburunya. Ia sedikit berpikir. Sejenak kemudian ia menjawab, “7300 ayat!”
Aku tersenyum kepadanya lalu berkata, “Ketahuilah saudaraku, semua ayat Al Quran hanya berjumlah 6236 ayat. Tidak sampai 7300. Maka bila engkau menghafal 1 ayat sehari, in sya Allah engkau akan menuntaskan hafalan Al Quran hanya dalam tempo kurang dari 18 tahun!”
Si Fulan pun kembali sengit dan menukas, “Hah….,18 tahun? LAMA SEKALI….! Banyak pesantren, mahad tahfiz bahkan rumah tahfiz di Indonesia mampu mencetak santri-santri hafiz 30 juz dalam tempo 1-3 tahun saja!”
Aku tidak mundur menerima serangan sinis-nya. Sambil menarik nafas dalam demi menenangkan jiwa aku jawab, “Menurutmu…, mana lebih cerdas orang Indonesia atau Rasulullah Saw dalam menghafal Al Quran?”
Si Fulan tidak jawab pertanyaan ini, dan aku bisa menduga mengapa ia sedemikian.
“Hehehehe…, kamu pasti gak tega untuk bilang bahwa orang Indonesia lebih pintar dari Rasulullah Saw dalam masalah ini. Namun pernahkah kau renungi berapa lama Rasulullah Saw dan para sahabatnya menghafal Al Quran?! Ketahuilah…, mereka menghafalnya lebih dari 22 TAHUN. Lalu apakah mereka kurang cerdas?! Masalahnya di sini bukan perkara cerdas atau tidak dalam menghafal Al Quran. Namun Allah Swt menurunkannya secara perlahan-lahan agar bisa diserap oleh manusia lalu diamalkan dalam hidup keseharian mereka. Bagi ku Al Quran kurang tepat bila hanya dihafal namun tanpa pelaksanaan. Namun Al Quran akan lebih ajeg termanifestasi dalam kehidupan kita semua bila dihafal lalu diamalkan dalam kehidupan.”
Aku pun lalu menunjukkan firman Allah Swt berikut: وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا
"Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian." QS. 17:106 Simaklah firman Allah Swt di atas dan perhatikan bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur agar Rasulullah Saw menyampaikannya secara perlahan-lahan.
Bila Allah Swt menyuruh Rasulullah Saw untuk menikmati Al Quran dengan perlahan-lahan hingga 20 tahun lebih, pastilah di sana ada sebuah hikmah yang amat baik.
Maka mulailah menghafal sambil menikmati Al Quran. Usah terburu-buru ingin cepat hafiz 30 juz. Mulailah dari 1 ayat per hari. Pahami, jiwai, nikmati, dan amalkan ajarannya. In sya Allah, bila engkau telah sanggup menguasai 1 ayat per hari, maka pasti Allah Swt beri kemudahan bagimu untuk mewujudkan cita-cita menghafal Al Quran 30 juz beserta maknanya.
Semoga bermanfaat

Oleh:
@bobbyherwibowo


Rabu, 02 April 2014

Jika Cinta

Jika cinta adalah api...
Maka berhati-hatilah dengan hangatnya yang membakar

Jika cinta adalah air...
Maka berhati-hatilah dengan sejuknya yang menghanyutkan

Jika cinta adalah angin...
Maka berhati-hatilah dengan semilirnya yang melenakan

Jika cinta adalah kaca...
Maka berhati-hatilah agar tak menghancurkannya

Jika cinta adalah cermin...
Maka bersiaplah menghadapi pantulannya

Jika cinta adalah waktu...
Maka jangan sampai disia-siakan

Jika cintaku adalah dirimu...
Maka bersiaplah tuk ku jemput
Duhai bidadari surgaku...


Minggu, 15 Desember 2013

Nasehat Imam Syafi'i : Merantau


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika didalam hutan

Kamis, 21 November 2013

Diingatkan di Subuh Hari

Di subuh ini aku kembali dihampiri rasa sesal yang dulu telah melumpuhkan semangat diri ini. Ya. Aku menyesal. Kenapa dulu aku mengambil keputusan itu. Keputusan untuk merelakan kuliah yang sudah aku jalani ini. Merelakan IPK ku jeblok demi mengejar hal yang tak pasti melalui SBMPTN itu. 

Akibatnya? Impian dan harapan (beberapa orang) dulu tidak bisa ku wujudkan. Kini ku lihat. Mereka. Ya. Mereka. Teman-temanku yang satu jalan dan pendidikan keorganisasian denganku dulu, kini mereka telah maju untuk menjadi Ketua Himpunan bahkan Ketua BEM Fakultas mereka. 
Aku? Aku yang bahkan pada saat pelatihan mereka pilih menjadi ketua mereka? Cuma di sini. Ya. Di sini. Duduk diam termenung menjadi tim sukses. 

Menjadi pemandu sorak. Orang balik layar. Gerakan terbatas. Bertugas mengelukan nama orang lain.

Teriris. Ya. Aku merasa teriris. 

Mereka maju. Berperang. Berusaha menjadi yang terdepan agar dapat mudah menebar kebaikan. Aku? Masih. Ya. Masih jadi orang di balik layar. 

Sedih? Jelas. Galau? Apalagi. Jatuh? Iya. Nggak punya harapan? Hmm...

Mungkin memang benar aku merasa kehilangan harapan (emang lebay sih kayak telenovela). Kurang semangat. Iya. Aku akui. Justru karena memikirkan hal-hal seperti ini kuliahku menjadi semakin terbengkalai. 

Tapi, beruntungnya aku. Aku memiliki teman-teman (ya. Aku masih memiliki teman) yang senantiasa dapat menjadi pengingatku. 
Contohnya salah satu sahabatku yang aku tau dia juga sedang berjuang untuk kesembuhan dirinya, Wahidatul Wafa. Beberapa hari yang lalu, dia membuat status di FB yang berbunyi:
"Ketika dihadapkan atas dua pilihan atau lebih, maka solusinya adalah segera memilih. Dan ketika berani memilih, berarti harus dua kali lebih siap. Siap menjalankan dan siap menanggung resikonya.. Be strong Fa.".
Mungkin dia membuat status ini untuk menyemangati dirinya sendiri. Namun, aku di sini yang membacanya merasa seperti disentil. Seakan-akan Wafa ini berbicara langsung kepadaku. Ya. Memang Wafa adalah salah satu sahabat yang sering ku mintai nasehatnya. Maaf ya Fa belum jenguk kamu lagi. Hehehehe...

Berikutnya ada salah satu sahabat dekatku di kampus ini. Hafidh Mulyawan. Di subuh ini aku BBM si jomblo satu ini (ya. Aku yakin dia belum tidur). Aku utarakan kegalauan dan kesedihanku. Dan aku, jujur, terkejut dengan jawabannya. 
"Wew terus kenapa harus jadi beban pikiran buat lo, coy? Semua orang punya jalan masing-masing. Jangan selalu lo berfikir orang lain kayal gitu lo juga harus kayak gitu. Lo punya jalan lo sendiri. Mungkin nggak sekarang, tapi ntar lo bakal liat lo jadi ketua apa nantinya.".
#MAKJLEB! 
Aku langsung tersadarkan. Bukankah ini kalimat yang sering aku ucapkan pada teman-teman yang mengadukan kesedihannya padaku? Ya. Di subuh ini Allah kembali mengingatkan diriku, melalui jomblo yang bernama Hafidh ini, akan pentingnya keikhlasan dan kesabaran.

Ya. Mungkin hal ini bagi sebagian orang adalah hal biasa bahkan hal remeh. Namun tidak bagiku. Hal ini lumayan besar pengaruhnya. 

Kini, setelah diingatkan seperti ini, sudah saatnya aku bertingkah dan bertindak sebagaimana seorang muslim sejati: OPTIMIS! Semangat Fastabiqul Khairat!

Bismillah. Tak pernah ada kata terlambat. Bukankah aku ini seorang muslim pejuang? (^_^) 

Sabtu, 16 November 2013

Kapankah Datangnya Pelangi

Di balik senja aku menanti
Sendiri. Menatap iri.

Di balik jendela ku berdiri
Sendiri. Termenung sepi.

Diantara dunia dan privasi
Sendiri. Hampa terasa hati ini

Diantara jalanan dan kamar ini
Sendiri. Berat nafas ku ini.

Diantara awan dan bumi
Sendiri. Muhasabah diri.

Diantara bulan dan matahari
Sendiri. Bergumam tak berarti.

Diantara angin dan rintik hujan ini
Sendiri. Ke bertanya pada hati
"Kapankah datangnya pelangi?"




“Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira”. (Qs. Ar-Rum: 48)

Pelangi Dimalam Hari

Awan hitam pekat
Pemandangan berkabut

Udara malam nan dingin
Gigil. Menusuk tulang

Nafaskupun berembun
Dalam diam menyaksikan

Elok paras indah lakumu
Lekukanmu yang mempesona

Menggoda iman tuk tetap menatapmu
Menyaksikan indahnya ciptaan-Nya

Warnamu yang menunjukkan kecantikan
Meski gelap mengelilingi

Bisikan halusmu di telingaku
"Tenanglah. Aku kan selalu ada di sisimu."

Indah cahaya terpancar di lengkungan senyummu
Terang. Mengoyak pekatnya gelap malam ini

Dirimu yang selalu ku nanti setelah hujan
Senantiasa hadir menemuiku

Seakan ingin ku peluk tak ku lepas
Erat. Setiap waktu semakin erat

Ingin ku jamahi setiap sisi tubuhmu
Dan ku koarkan pada dunia

"Inilah Pelangi di Malam Hari!"


Selasa, 05 November 2013

Tersadarkan

Dalam temaram cahaya kamar. Dalam sunyinya malam. Dalam gundahnya jiwa. Dalam rapuhnya hati. Dalam lemahnya badan. Dalam keringnya ruhiah.

Aku merenung. Ya. Hal yang belakangan sudah jarang ku lakukan.

3 Minggu. 3 Minggu ini terasa sebagai minggu-minggu terburuk dalam hidupku. Akademik keteteran. Amanah beberapa terlalaikan. Sosial terasingkan. Kesehatan tak terperhatikan.

Bingung. Secara psikologis aku sedang tidak stabil. Terlebih hari Minggu kemaren aku termakan telur yang sebenarnya sudah mencapai tahap "busuk". Maka jadi lah psikologis tak stabil dan badan tak beres.

Tadi akhirnya aku beranikan diriku untuk memberitahu Mama mengenai keadaanku. Aku ceritakan mengenai kesehatanku. Aku tanyai kesehatan beliau. Aku tanyai keadaan Papa. Aku tanyai kabar keluargaku yang lainnya. Lalu sampailah ke bagian pertanyaan beliau, "Gimana kuliah kamu, Nak?". Diam. Aku hanya bisa terdiam.

Namun, tak mungkin aku pendam terus rasa ini sendirian. Aku hidup di negeri rantau. Di negeri orang. Dalam sudut pandang dunia, aku sendiri di sini. Di sini aku tak tau akan cerita kepada siapa mengenai masalah-masalah yang sedang aku hadapi. Tidak ada. Tidak ada orang-orang yang cukup bisa dipercaya di sini. Dan hingga kini belum ku temukan orang-orang yang akan bisa mengerti diriku.

Maka jadilah ku ceritakan semua kepada Mama. Akademikku yang keteteran. Frekuensi keterlambatan ku yang meningkat. Laporan yang sering tertunda pengumpulannya. Beberapa UTS yang jawabannya Allahu'alam. Dan alasan mengapa semua ini bisa terjadi masih belum aku ketahui.

Setelah aku bercerita, Mama langsung mengulangi kalimat yang beliau gunakan untuk membangkitkanku saat aku terjatuh karena tak lulus SNMPTN dulu. "Semuanya udah digariskan oleh Allah. Mama yakin kamu udah lebih dari ngerti akan hal ini. Percaya sama apa yang ditentuin Allah. Karena Dia lah yang menguasai kita.".

Tersentak. Aku seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Dan aku langsung tau apa sebenarnya penyebab hari-hariku yang buruk ini.
1) Amalan Yaumi yang berkurang.
2) Aku masih belum mengikhlaskan fakta bahwa aku tidak lulus lagi untuk masuk FK tahun ini.

Mama pun bilang, "Mama nggak maksa kamu buat bertahan di sana. Kalau kamu mau ngulang lagi, silahkan. Justru Mama lebih senang kalau kamu kuliah di Padang aja. Tapi, kalau bisa kamu tetap ngelanjutin kuliah yang udah kamu mulai. Jangan dilepasin. Kalau misalnya kamu nggak dapat lagi, toh kamu udah ada kuliah yang jalan juga kan? Jadi jangan sampai kamu kehilangan yang udah kamu punya demi mengejar yang belum pasti kamu dapetin.".

Yak. Air mata aku pun luluh. Aku merasa sangat hina. Sangat kufur nikmat.

Sejak telepon itu ditutup, maka mulailah diri ini memantapkan diri tuk memperbaiki keburukan-keburukan tadi.

Maka benarlah bahwa aku masih belum menjadi orang yang ikhlas. Aku masih harus banyak belajar lagi.

Memang. Orangtua adalah yang paling mengerti tentang kita, anaknya.

Selamat Tahun Baru 1435H, Mama & Papa (^_^)