"Maaf". Mungkin ini adalah satu kata yang paling sering diucapkan seorang manusia selama hidupnya. Ya. Manusia memang tidak pernah bisa bebas 100% dari yang namanya kesalahan. Apalagi kesalahan antar sesama manusia. Setelah melakukan kesalahan biasanya hubungan akan rusak, namun kata "maaf" selalu bisa memperbaikinya kembali. Entah. Kadang saya bingung dengan kata ini. Dia begitu kuat dan berpengaruh.
Ada beberapa tipe manusia yang enggan juga menggunakan kata ini. Ada juga yang tipenya susah untuk menerima kata ini. Maksudnya yaitu saat ada yang meminta maaf kepadanya, dia tidak mempedulikannya. Dia tetap menyimpan rasa amarah itu di dalam hatinya. Ia enggan membuka pintu hatinya agar kata "maaf" yang dilontarkan si peminta maaf memasuki dan menambah keimanan di hatinya. Biasanya dalam hal ini, gengsi berkuasa atas diri. Sehingga birahi harga diri bergejolak tinggi. Kata "maaf" telah mengetuk pintu hati, namun dia lebih memilih menyiksa diri dengan dendam tak teratasi. Sungguh iba diriku pada pribadi seperti ini.
Setelah si hati tak dibuka, biasanya si otak kan bekerja ekstra. Ia bekerja merangkai kata untuk balik mencerca si peminta. Setelah kata cercaan terucap maka hubunganpun tak bisa dirangkai lagi. Maka si hati pun nelangsa namun si otak berbangga. Si dada bergemuruh iba namun si tangan mengepal bangga. Entah apa yang dipikirkan si otak yang bangga membuat si hati menangis iba. Ya. Hati pasti terluka...
Saya secara pribadi mengakui bahwa saya juga sering menggunakan kata ini. Saya juga mengakui bahwa saya sering berbuat salah pada orang lain. Bahkan mungkin saya harus selalu minta maaf setiap ada yang melihat saya karena bisa saja saya ini polusi. Da aku mah apa atuh... *badumcess! hahaha...
Ya. Saya manusia biasa. Mungkin saya adalah satu diantara beberapa manusia hina yang masih bisa berjalan dengan sombong di muka bumi ini padahal begitu banyak dosa yang telah saya perbuat. astaghfirullah...
Dosa. Ya. Dalam perenungan yang lama dan semakin lama, saya semakin menyadari dan ingat kembali akan dosa-dosa yang telah saya perbuat. Ada dosa yang KATANYA ringan sampai dosa yang sangat berat sampai-sampai hanya orang-orang terpilih (dalam konteks negatif) yang mungkin pernah melakukannya. Astaghfirullah...
Ya, Dalam perenungan dalam selama ini. Saya semakin menyadari kesalahan yang telah saya lakukan.
Saya semakin merasa hina...
Saya semakin merasa berdosa...
Saya semakin merasa kotor...
Saya merasa semakin......ah sudahlah...
Sekarang tiada guna saya hanya merenung. Teruntuk kamu yang membaca tulisan ini. Aku meminta maaf. Terlebih kalian semua yang pernah saya sakiti secara langsung dan meninggalkan bekas, Saya minta maaf. Semoga langkah kita untuk menggapai surganya dilancarkan dan diberkahi. Aamiin.
Terkhusus kamu. Iya kamu. Kamu yang memutuskan tali silaturahmi. Semoga kita kembali bersaudara seperti sedia kala. (^_^)
~Faris Elzo Syauqi Arafah, di kosan penuh kenangan dan menanti saat melepas status bujangan~






