Kali ini pengen cerita mengenai awal mula jadi anak Rohis.
Awalnya itu denger kata Rohis itu dari Kakak yang merupakan anak Rohis di SMA nya. Kakak yang udah kerudungan semenjak SMP, di SMA jadi anak Rohis dan jadi agak jinak (keliatannya). Tapi tetap aja ama adek mah dia tega. haha...
Waktu kakak tau gue pacaran pas SMP, dia langsung marah sampe pengen ngeruqyah. Tapi ga jadi mungkin karena dia belum belajar ruqyah dan mungkin juga takut kalau-kalau malah yang ngeruqyah tertular jin gue. Astaghfirullah -_-
Trus mulai deh tuh penasaran Rohis itu apa. Soalnya di tipi juga ada beberapa sinetron yang di dalamnya ada tokoh anak rohis nya. Cari tau deh. Dan dapat info bahwa Rohis itu ternyata kumpulan anak-anak remja Masjid versi sekolah. Cetek beud ya kesimpulannya? Ya begitulah kemampuan analisaku saat SMP. Wakakaka...
Akhirnya waktu SMA, mantap buat masuk Rohis. Bukan. Alasan utamanya bukan karena pengen belajar ilmu agama. Tapi karena seorang akhwat. Ada seorang akhwat yang membuat ku terpana sejak pertama kali ngelihat dia di acara Pra-MOS. Selidik punya selidik, ternyata dia daftar Rohis. yaudah ikut masuk juga dengan harapan suatu saat bisa nikahin itu akhwat (serius loh ini niatnya).
Trus aktif deh tuh di sana. Berbekal ilmu agama yang didapat dari keluarga yang emang religius abis dan ilmu saat di MDA, dengan cepat gue dipandang sebagai orang yang mumpuni dan dipanggil "ustadz" oleh orang-orang. Padahal ilmu dikit. Cuma modal ke-sotoy-an yang overdosis dan muka tebal tak tahu malu.
Tapi semenjak jadi anak Rohis ini, begitu banyak perubahan yang kurasakan. Jadi punya tempat tujuan selepas pulang sekolah, Yaitu Masjid. Pulang sekolah kalau ga mau langsung pulang, ke Masjid aja. Ntar ketemua ama anak-anak Rohis. Ngobrol deh. Sekalian sharing. Bahkan ada yang curhat pol-polan. Trus kalau udah masuk waktu shalat, diajakin bareng.
Gue sebagai orang yang semasa SMP adalah anak cupu tulen yang kerjaannya cuma duduk diem di kelas ga punya temen dekat di kelas, merasakan bahwa hal ini adalah hal yang sangat menyenangkan. Terlebih lagi, orang-orang sering mencariku untuk menanyakan sesuatu tentang agama Islam ini yang mana emang gue udah sering baca-baca buku fiqih dan khatam Sirah Nabawiyah karanngan Prof. Sa'id Ramahdan Al Buthy sejak SD. Ada kebahagiaan tersendiri saat orang-orang ini bertanya dan gue berkesempatan menjelaskan.
Ya. Karena Rohis ini lah aku bisa menjelman menjadi seseorang yang tak takut berbicara di depan orang banyak apalagi kalau berdakwah. Duh senangnya setengah mati kalau bisa ngasih tausyiah itu.
Akhirnya di kelas X, aku menjadi ketua Laskar BRI (Bina Remaja Islam, ekskul buat yang ikhwan). Di kelas XI jadi calon ketua Rohis namun amanah itu lebih layak diemban oleh Vino. Akhirnya gue jadi ketua dept. Kaderisasi. Yang mana seperti ketua Rohis undercover. Karena saat ketua Rohis ga ada di tempat, gue yang gantiin. Dan alhamdulillah memang sering satu pemikiran dengan Vino dalam mengambil keputusan. Meski harus ku akui bahwa Vino memang pantas banget jadi ketua Rohis. Wajahnya bersinar karena senantiasa basah kena air wudhu. Lah gue? Senantiasa gelap karena basah oleh air comberan. Lalu ketua BRI diemban oleh Alief yang kemudian Alief pindah sekolah dan digantikan oleh Fadhlan. PHBI diemban oleh Yono. FA (Forum Annisa) diemban oleh Ega. Sekretaris diemban oleh Anis. Bendahara diemban oleh Febby. Dan Jurnalistik diemban oleh Agif. Inilah tim yang semakin menguatkan keinginanku untuk senantiasa di jalan dakwah ini. Selalu saling mengingatkan. Senantiasa bersama-sama dalam susah dan senang. Dan jadi pemicu untuk selalu jadi lebih baik.
Akhwat yang jadi niat awal? Bukan jadi niat utama lagi. Biarkan dia menjadi bonus dari Allah saja.
Awalnya itu denger kata Rohis itu dari Kakak yang merupakan anak Rohis di SMA nya. Kakak yang udah kerudungan semenjak SMP, di SMA jadi anak Rohis dan jadi agak jinak (keliatannya). Tapi tetap aja ama adek mah dia tega. haha...
Waktu kakak tau gue pacaran pas SMP, dia langsung marah sampe pengen ngeruqyah. Tapi ga jadi mungkin karena dia belum belajar ruqyah dan mungkin juga takut kalau-kalau malah yang ngeruqyah tertular jin gue. Astaghfirullah -_-
Trus mulai deh tuh penasaran Rohis itu apa. Soalnya di tipi juga ada beberapa sinetron yang di dalamnya ada tokoh anak rohis nya. Cari tau deh. Dan dapat info bahwa Rohis itu ternyata kumpulan anak-anak remja Masjid versi sekolah. Cetek beud ya kesimpulannya? Ya begitulah kemampuan analisaku saat SMP. Wakakaka...
Akhirnya waktu SMA, mantap buat masuk Rohis. Bukan. Alasan utamanya bukan karena pengen belajar ilmu agama. Tapi karena seorang akhwat. Ada seorang akhwat yang membuat ku terpana sejak pertama kali ngelihat dia di acara Pra-MOS. Selidik punya selidik, ternyata dia daftar Rohis. yaudah ikut masuk juga dengan harapan suatu saat bisa nikahin itu akhwat (serius loh ini niatnya).
Trus aktif deh tuh di sana. Berbekal ilmu agama yang didapat dari keluarga yang emang religius abis dan ilmu saat di MDA, dengan cepat gue dipandang sebagai orang yang mumpuni dan dipanggil "ustadz" oleh orang-orang. Padahal ilmu dikit. Cuma modal ke-sotoy-an yang overdosis dan muka tebal tak tahu malu.
Tapi semenjak jadi anak Rohis ini, begitu banyak perubahan yang kurasakan. Jadi punya tempat tujuan selepas pulang sekolah, Yaitu Masjid. Pulang sekolah kalau ga mau langsung pulang, ke Masjid aja. Ntar ketemua ama anak-anak Rohis. Ngobrol deh. Sekalian sharing. Bahkan ada yang curhat pol-polan. Trus kalau udah masuk waktu shalat, diajakin bareng.
Gue sebagai orang yang semasa SMP adalah anak cupu tulen yang kerjaannya cuma duduk diem di kelas ga punya temen dekat di kelas, merasakan bahwa hal ini adalah hal yang sangat menyenangkan. Terlebih lagi, orang-orang sering mencariku untuk menanyakan sesuatu tentang agama Islam ini yang mana emang gue udah sering baca-baca buku fiqih dan khatam Sirah Nabawiyah karanngan Prof. Sa'id Ramahdan Al Buthy sejak SD. Ada kebahagiaan tersendiri saat orang-orang ini bertanya dan gue berkesempatan menjelaskan.
Ya. Karena Rohis ini lah aku bisa menjelman menjadi seseorang yang tak takut berbicara di depan orang banyak apalagi kalau berdakwah. Duh senangnya setengah mati kalau bisa ngasih tausyiah itu.
Akhirnya di kelas X, aku menjadi ketua Laskar BRI (Bina Remaja Islam, ekskul buat yang ikhwan). Di kelas XI jadi calon ketua Rohis namun amanah itu lebih layak diemban oleh Vino. Akhirnya gue jadi ketua dept. Kaderisasi. Yang mana seperti ketua Rohis undercover. Karena saat ketua Rohis ga ada di tempat, gue yang gantiin. Dan alhamdulillah memang sering satu pemikiran dengan Vino dalam mengambil keputusan. Meski harus ku akui bahwa Vino memang pantas banget jadi ketua Rohis. Wajahnya bersinar karena senantiasa basah kena air wudhu. Lah gue? Senantiasa gelap karena basah oleh air comberan. Lalu ketua BRI diemban oleh Alief yang kemudian Alief pindah sekolah dan digantikan oleh Fadhlan. PHBI diemban oleh Yono. FA (Forum Annisa) diemban oleh Ega. Sekretaris diemban oleh Anis. Bendahara diemban oleh Febby. Dan Jurnalistik diemban oleh Agif. Inilah tim yang semakin menguatkan keinginanku untuk senantiasa di jalan dakwah ini. Selalu saling mengingatkan. Senantiasa bersama-sama dalam susah dan senang. Dan jadi pemicu untuk selalu jadi lebih baik.
Akhwat yang jadi niat awal? Bukan jadi niat utama lagi. Biarkan dia menjadi bonus dari Allah saja.


.bmp)



